Hari pertama
Aku mengeluarkan barang-barang dari ranselku. Beberapa
lembar baju dan perlengkapan mandi kumasukkan dalam sebuah lemari kecil dalam
kamar (yang juga kecil) ini. Kamarku untuk satu bulan kedepan. Meskipun hanya
berkapasitas satu meja, lemari dan
ranjang yang serba kecil, bagaimanapun juga ruangan ini tetap terlihat
mengagumkan. Segala sesuatu di sini
berwarna putih terang, seolah pemiliknya ingin memberi kesan tentang sesuatu
yang ‘benar-benar bersih’. Dan aku sangat yakin, tidak ada sedikit pun titik
hitam yang melekat pada dinding, lantai, sprei atau langit-langitnya. Hanya ada
kesempurnaan. Membuatku sempat merasa tidak tega saat pertama kali menginjakkan
kaki di tempat ini.
“Lagi apa, Wisnu?” Suara dingin dan berat itu membuatku
hampir terloncat. Entah sejak kapan pria berpostur tegap itu berdiri di depan
pintu, aku bahkan tidak mendengarnya masuk. Pria itu terlihat cukup gagah untuk
ukuran pria yang berusia setengah abad.
Aku berusaha keras menyembunyikan keterkejutanku barusan.
Kusunggingkan senyuman paling ramah yang kumiliki. “Oh, Pak Abas. Bikin kaget
saja.” Kataku penuh unsur basa-basi. Namun semua orang di negeri ini juga tahu
kalau Abas Wicaksono tidak suka basa-basi dalam segala bentuk.
“Kamu ngapain?” Ia bertanya lagi, masih dengan nada dan
tatapan datar khasnya. Rasanya sulit dipercaya. Aku baru saja melakukan
perjalanan yang begitu melelahkan. Penerbangan panjang dari kota Surabaya ke
Kota Palu, ditambah dua jam perjalanan dengan angkutan untuk ke desa kecil ini
dan baru sampai di rumah ini pada pukul tiga dini hari. Dan semua itu kulakukan
hanya untuk mendapat tatapan dingin dari pria ini. Namun entah mengapa aku
tetap merasa begitu bahagia bisa bertemu dengannya. Benar-benar sulit
dipercaya.
“Eeng, ini lagi beres-beres saja.” Bukankah aku memang
terlihat sedang membereskan barang-barang. Aku tidak mengerti mengapa ia masih
juga bertnya. “Memangnya kenapa, Pak?”
“Maksud saya, ngapain kamu bawa-bawa benda itu, buat
apa?” Aku mengikuti arah pandanganya pada beberapa lembar kanvas kosong dan
kuas-kuas di tanganku, lalu kembali menatapnya dengan bingung. Jangan-jangan
pria ini sudah lupa dengan tujuan awalku berada disini. Mengapa ia masih juga
menanyakan kenapa aku membawa benda ini, bukankah ini semua memang alasan
mengapa aku menemuinya. Dan seolah Ia bisa membaca pikiranku, ia menambahkan,
“kita tidak akan membutuhkan benda-benda itu untuk beberapa hari kedepan. Lebih
baik kamu simpan saja dulu.”
Aku menurutinya tanpa memahami maksud perkataanya.
Kuletakan peralatanku tadi kedalam laci meja, dan Pak Abas berkata lagi, “Saya
tunggu kamu diluar, Wisnu. Kita mulai pelatihan ini se-awal mungkin.” Aku
bermaksud mengatakan keberatanku karena aku masih terlalu lelah setelah melakukan
perjalanan jauh tadi, namun kuurungkan niat itu.
Aku berdiri di depan rumah sederhana ini, meregangkan
bagian tubuh yang terasa kaku sambil
menikmati pemandangan luar biasa di sekitarnya. Udara pagi yang kuhirup begitu
menyegarkan, jauh lebih segar dari udara di tempat asalku. Jam tanganku
memunjukkan waktu pukul setengah lima, mungkin terlalu pagi untu memulai hari,
namun udara disini telah membuatku melupakan rasa lelahku. Dan lagi-lagi, Pak
Abas entah dari mana muncul secara tiba-tiba.
“Seperti yang saya bilang tadi, kita tidak akan
membutuhkan kuas atau apa. Belum saatnya. Entah kamu sudah berpengalaman atau
belum, berbakat atau tidak, kita akan memulai semuanya dari awal." Aku
sama sekali tidak mengerti maksud perkataanya.
Dalam suasana remang-remang ini aku bisa melihat seorang
bocah bermain lompat tali di belakang Pak Abas. “Gino.” Kata Pak Abas,
lagi-lagi dengan nada datarnya. Aku mulai penasaran jangan-jangan seumur
hidupnya ia selalu terlihat bosan seperti ini. Seolah di bumi ini tidak ada
yang menarik baginya.
Bocah yang ia sebut Gino tadi sempat menoleh ke arah kami
selama beberapa detik mendengar namanya disebut. Namun seolah tidak tertarik,
ia kembali melanjutkan permainanya tanpa mempedulikan keberadaan kami. “Pagi
ini, kamu ikuti saja Gino.” Aku yang tidak paham maksudnya hanya ber-’huh?’,
khawatir ada yang salah dengan pendengaranku. “Kamu pernah dengar ‘lari pagi’
kan? Saya ingin kamu kejar terus Gino sampai bisa menangkapnya.” Aku merasa
semakin khawatir, jangan-jangan pria ini sedang mempermainkanku. Ia menyuruhku
mengikuti bocah ini seolah aku ini babysitter
saja, astaga, aku benar-benar tidak paham jalan pikiran pria ini.
Bocah bernama Gino itu sudah berhenti bermain lompat tali
dan mulai berlari kecil keluar halaman rumah, seolah ia sama sekali tidak
mendengar pembicaraan kami barusan. “Tapi kan, pak, saya jauh-jauh ke sini
bukan untuk...”
“Ini bagian dari metode pelatihan saya. Kalau kamu
keberatan, silahkan berhenti. Dan, hari ini saya tidak mengharapkan kamu
kembali ke rumah ini sebelum bisa menangkap Gino!” Pria ini menatap mataku
lekat-lekat selama beberapa detik. Aku benar-benar tidak mempunyai pilihan
lain. Aku pun mulai mengejar Gino yang sudah jauh di depan.
Hari ke 35
Abas Wicaksono. Siapa yang tidak mengenal nama itu.
Seorang pelukis terkenal Indonnesia dengan aliran Ekspressionis dan naturalis
nya. Ia adalah seorang legenda. Banyak yang menyebutnya sebagai maestro seni
lukis Indonesia kedua, setelah Affandi Koesoema. Namun beberapa menganggap
namanya bahkan lebih besar dari Affandi. Ia telah menghasilkan ratusan lukisan,
yang memang jumlahnya tidak lebih banyak
dari karya Afandi, namun tidak satupun lukisan Abas Wicaksono yang tidak
menjadi fenomenal.
Orang yang awam dalam dunia seni lukis saja dapat
mengatakan karya-karya Abas itu luar biasa hanya dengan sekali lihat. Beberapa
karya Abas kini telah dipamerkan di musium Louvre, Paris. Bahkan lukisannya
yang berjudul ‘Pengantin Kembar’ sedang banyak dipelajari oleh para ahli dan
diletakkan bersandingan dengan lukisan ‘Mona Lisa’ karya Leonardo da Vinci.
Bagi Indonesia sosok Abas Wicaksono bagai pahlawan yang
telah mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional. Sudah ratusan kali
tawaran untuk hidup di luar negeri ia tolak, dan sampai sekarang ia masih
berkarya untuk tanah airnya. Namun meskipun terkenal dan fenomenal bukan
berarti ia sering muncul di televisi atau acara-acara sosial. Abas selalu
menjadi sosok yang misterius. Ia selalu berhasil lolos dari media. Kemunculanya
di depan publik saja hanya bisa dihitung dengan jari, dan itu pun selalu dengan
gaya dingin dan bosannya tanpa banyak kata-kata. Tidak banyak yang tahu
kehidupan pribadinya, latar belakang, masa lalu, bahkan kediamannya.
Benar-benar seorang legenda.
Aku, Wisnu Darmawan, adalah satu dari jutaan penggemar
Abas Wicaksono. Aku benar-benar mengidolakannya dan aku akan melakukan apapun
agar bisa bertemu denganya.
Saat masih kecil dulu aku memang sangat-sangat gemar
melukis, dan aku pernah bercita-cita menjadi pelukis terkenal. Namun cita-cita
itu tidak pernah sampai kerena orang tuaku menganggap melukis hanyalah sebatas
hobi saja. Kini aku berprofesi sebagai dokter bedah di Surabaya, dan impian
untuk jadi pelukis sudah lama terlupakan. Kemunculan sosok Abas Wicaksono
itulah yang membangkitkan kembali semangat melukisku yang sudah lama terkubur.
Sekitar dua bulan lalu, sebuah keajaiban terjadi. Setelah
melakukan pencarian dan penyelidikan yang begitu sulit, rasanya seperti mimpi,
aku pun mendapat informasi mengenai kediaman beserta info lainya tentang Abas
Wicaksono. Aku sendiri bahkan sulit mempercayainya. Siapa sangka, seorang Abas
Wicaksono selama ini ternyata bersembunyi di sebuah desa kecil di Sulawesi
Tengah, dimana mungkin tidak banyak orang yang mengetahui identitas aslinya.
Beberapa minggu kemudian, setelah melalui proses
‘memohon-mohon’ yang begitu panjang, akhirnya aku dapat meyakinkan Abas
Wicaksono untuk menerimaku sebagai muridnya. Aku tidak akan pernah bisa
melupakan ketika surat dari Abas Wicaksono itu sampai ke tanganku. Seperti
sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, aku merasa seperti orang peling beruntung
di bumi ini.
Dan kini, aku kembali menjalani rutinitasku sebagai
Dokter bedah setelah satu bulan belajar pada Abas Wicaksono. Banyak yang telah
kupelajari dalam satu bulan ini. Bukan hanya tentang melukis, namun juga caraku
memandang hidup. Melukis itu bukan hanya tentang bagaimana cara menghasilkan
karya bagus dan menjadi terkenal. Banyak hal kompleks lain yang membuat melukis
itu menjadi luar biasa, yang aku sendiri juga sulit untuk memahaminya.
Awalnya aku memang berharap, dengan berguru padanya akan
bisa membuka sisi misterius idolaku tersebut pada akhirnya. Dan aku salah. Aku
mengira bisa memahaminya hanya dengan mengetahui kebiasaanya sehari-hari. Namun
nyatanya aku tetap tidak mengerti apa-apa tentang dirinya. Terkadang disaat
tertentu aku merasa mulai mengenal dirinya, namun kemudian aku merasa seolah ia
begitu jauh. Abas Wicaksono akan selalu sulit dipahami jalan pikiranya.
Sepertinya ia akan selalu menjadi sosok misterius yang sulit dijangkau.
Hari ke 3
Aku bisa benar-benar muntah jika ada makanan yang masuk
kedalam mulutku saat ini. Di depan meja makan ini hanya ada aku, Gino, dan Pak
Abas. Kepalaku benar-benar pusing, mungkin karena terlalu lelah berlarian pagi
ini. Isi perutku serasa seperti dikocok, selera makanku telah lenyap. Aku tidak
bisa bergerak selain memegangi perut dan keningku.
“Kecapekan ya, Wisnu? Kamu terlihat mual,” Kata pak Abas.
Wajahku pasti terlihat sangat pucat sekarang. Aku hanya bisa menjawabnya dengan
anggukan. “Disini, makan bersama itu termasuk dalam pembelajaran saya, loh.”
Pak Abas berkata dingin tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. Jadi
sekarang pria ini memaksaku untuk makan. Baiklah.
Aku baru saja mengunyah suapan pertamaku, sedangkan Gino
sepertinya telah menghabiskan makanan di piringnya. “Sudah kenyang,” katanya
kemudian pergi meninggalkan meja makan ini. Kini tinggal aku dan Pak Abas, dan
aku berusaha keras mengalihkan perhatianku agar tidak muntah di meja.
“Um, Gino itu sepertinya agak pendiam, ya, pak.” Kataku
memulai pembicaraan.
“Jangankan bicara. Senyum saja sangat-sangat jarang dia.
Apa lagi tertawa.” Yah, kalau yang satu ini sepertinya aku sudah tahu dari mana
penyebabnya. “Tapi dia sangat cerdas, selalu masuk peringkat tiga besar di
kelasnya.” Tambah pak Abas, terdengar sedikit bangga.
“Bapak yang mengajari dia belajarnya?” tanyaku.
“Bukan, dia selalu belajar sendiri. Mungkin dia memang
mewarisi gen cerdas dari orang tuanya.”
Dan aku pun akan menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah
kupendam selama berhari-hari ini. “Jadi, Gino itu cucu bapak, ya?” Mendengar
itu, Pak Abas sempat berhenti beberapa detik untuk menatapku, kemudian
melanjutkan kembali mengunyah makananya.
“Gino telah melewati banyak hal,” cerita Pak Abas. ”Ia
melihat ibunya meninggal dengan mata kepalanya sendiri.” Aku Hampir saja
menyemburkan makanan di mulutuku mendengar itu.
“Aku bertemu dengannya empat tahun lalu, di dekat stasiun
kota. Saat itu keadaan sangat sepi. Aku melihatnya meraung-raung menangisi
ibunya yang tergeletak kritis dengan luka tusukan di perut, mungkin mereka baru
dirampok. Saat itu tidak ada seorangpun yang lewat tempat itu, hanya ada aku.
Aku benar-benar panik dan tidak tahu harus melakukan apa. Ia memohon-mohon
padaku untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Aku pun langsung menelpon polisi dan
ambulan datang saat itu juga, tak lama kemudian tempat itu berubah menjadi
ramai dan kacau. Namun terlambat, ibu Gino terlalu banyak kehilangan darah,
nyawanya tidak tertolong. Sebelumnya aku belum pernah melihat anak yang begitu
hancur seperti Gino saat itu.
Tidak ada informasi mengenai identitas Gino dan ibunya.
Ada kemungkinan meraka dalam perjalanan ke suatu tujuan, namun saat itu gino
masih terlalu kecil. Ia tidak tahu dari mana asalnya atau kemana tujuan ibunya
membawanya. Jadi aku membawa Gino tinggal di sini.” Pak Abas terus bercerita
dengan santainya, sambil melahap makanan di piringnya. Seolah itu hanya sebuah
cerita nostalgia biasa. Sementara aku semakin pucat dibuatnya. “selama ini Aku
tidak pernah melihat ia benar-benar tersenyum atau berbicara padaku.” Aku tidak
tahu harus berkomentar apa.
Pak Abas telah menyelesaikan makananya dan ia pun
meletakkan sendoknya. Kemudian ia menatapku lagi lekat-lekat dan mendesah
berat, “mungkin selama ini Gino menyalahkan aku. Mungkin ia tidak akan pernah
bisa memaafkanku seumur hidupnya.”
Hari Ke 9
“Wah wah. Apa-apaan ini?” kata pak Abas saat duduk di
meja makan.
“Kan Pak Abas selalu membeli makanan luar, jadi saya
pikir saya akan masak sekali-kali di sini hehee.” Biarpun seorang pria bukan berarti aku ini
tidak boleh memasak bukan. Salah satu kegemaranku selain melukis adalah
memasak. Aku pernah mengikuti kursus memasak saat kuliah dulu, dan
spesialisasiku adalah pada masakan Jepang. ”Ini namanya Nikujaga, pak. Makanan
jepang kesukaan saya, entah bapak akan suka atau tidak hehee.”
“Oh.” Hanya itu yang Pak Abas katakan, kemudian mengambil
piring di depanya meskipun awalnya sempat terlihat ragu. Untung saja ia mau
mencoba menu baru ini.
“hm.” Gino telah mengunyah suapan pertamanya. Ia tidak
mengatakan apa-apa, tapi sepertinya ia menyukainya.
“wah kamu sepertinya sudah pandai memakai sumpit ya,
Gino.” Namun gino tidak mengomentari
ucapanku barusan, ia hanya melanjutkan makananya.
Sementara itu kulihat Pak Abas belum memasukkan apapun
kedalam mulutnya. Sepertinya ia kesulitan menggunakan sumpit dan aku tidak bisa
menahan tawaku. Mendengar kikikanku itu, Gino dengan bingung mengikuti arah
pandangku pada Pak Abas yang berulang kali menjatuhkan makanan dari sumpitnya.
Pak Abas mendesah dan menatapku dengan tatapan membunuh.
Aku pun berhenti tertawa dan cepat-cepat melahap makanan di piringku.
Hari ke 16
Gino adalah satu-satunya teman yang kupunya belakangan
ini. Aku merasa mulai dekat denganya, bukan hanya sebagai teman lari pagi saja.
Rutinitas ‘lari pagi’ ini berjalan setiap hari. Aku harus
mengikuti Gino, mengejarnya, dan membawaya pulang, setiap hari. Hanya dengan
begitu ritual lari pagi ini akan berakhir. Dan aku benar-benar tidak akan
diijinkan berhenti berlari sebelum bisa menyeretnya pulang, meskipun itu bisa
sampai siang hari.
Gino pun tidak pernah mempermudah situasiku. Ia sering
melesat ke tempat-tempat yang sulit dijangkau bahkan ke hutan desa yang lumayan
menjebak. Aku selalu kewalahan mengikutinya. Tak jarang juga aku kehilangan
jejaknya dan berakhir tersesat tanpa tahu jalan pulang. Hebatnya, Gino selalu
muncul secara tiba-tiba di saat yang tepat. Ketika aku tersesat di pasar, di
tengah hutan, ketika aku terjebak di lubang besar, Gino lah yang nenyelamatan
aku. Ia selalu datang entah dari mana, seolah ia selalu ada di sekitarku,
mengawasi gerak-gerikku dan hanya muncul saat keadaan benar-benar darurat.
Memang cukup memalukan untuk di selamatkan anak kecil, tapi dia telah
mengajariku banyak hal.
Hari ini aku dan Gino berlari pagi seperti biasa. Dan
seperti biasa, belum apa-apa aku sudah tertinggal jauh di belakangnya. Namun
yang tidak biasa adalah, ditengah perjalanan tiba-tiba saja ia berhenti di
depan sebuah pohon. Dan kesempatan itu tidak kusia-siakan untuk menangkapnya.
“Hahahaa, kena kamu akhirnya.” Kataku terengah-engah
dengan mencengkram lenganya. Namun ia tidak merespon. Ia hanya membunggkuk dan
memungut sesuatu dari tanah dengan sangat hati-hati. “Ada apa?” tanyaku. Seekor
anak burung yang masih merah menciak-ciak di tangan Gino, sepertinya ia baru
jatuh dari sarangnya. Gino menatapku dengan tatapan defensif sebelum berlari
tanpa mempedulikanku lagi, namun kali ini ia berlari ke arah rumah. “hey
tunggu! Burungnya tidak akan bisa selamat!”
Gino membeku mendengar kata-kataku itu, perlahan ia
berbalik menghadapku dengan dahi berkerut dan wajah tertekuk. “Sini, kita harus
mengembalikan burung itu ke sarangnya agar dia bisa bertahan.” Dengan hati-hati
aku mengambil burung kecil itu dari tangan Gino, dan kali ini ia tidak melarangku.
Aku yang tidak biasa memanjat pohon pun terpaksa melakukanya agar Gino puas,
untung saja letak sarangnya tidak terlalu tinggi. “keadaan diluar terlalu keras
untuknya, dia akan sulit bertahan hidup. Dengan begini kan dia bisa kembali ke
bersama ibunya.” Kataku sambil berusaha turun dari pohon tanpa terjatuh.
Tekukan di wajah Gino telah hilang. Ia menatapku dengan
senyuman tipis di wajahnya. Terlalu tipis, mungkin sulit dilihat, tapi aku tahu
ada sebuah senyuman di sana. Dan kami pun kembali pulang.
Aku yakin, sudah ratusan kali ia melewati semua rute lari
pagi hingga ia hafal di luar kepala tiap lubang dan belokannya. Aku pun
bergidik membayangkan siapa yang selama ini menolongnya ketika ia terjatuh atau
tersesat. Dan tiba-tiba sebuah kesadaran menghampiriku. Gino memang tidak
terlalu suka berbicara, namun dibalik semua ‘kecuekan’ Gino itu, dia hanyalah
seorang anak yang sangat kesepian.
Hari ke 19
Aku terengah-engah.
Pagi ini tidak biasaya Pak Abas mengajakku lari pagi
bersamanya, bukanya menyuruhku dengan Gino. Dan tidak kusangka, meskipun ia
sudah berusia kepala lima, ternyata sulit juga mengikuti kecepatan larinya.
Sebagian mungkin salahku juga karena sebelumnya aku memang tidak tebiasa
berlari pagi.
“Saya ingin kamu mengerti alasan saya menyuruh kamu
berlari setiap pagi. Disamping manfaat kesehatan tentunya.” Sekarang kami sudah
berhenti di sebuah padang rumput yang terlihat seperti lapangan luas. “Kamu
tahu tidak, untuk informasi saja, sebagian besar karya saya itu lahir setelah
berlari pagi” Aku belum bisa menangkap arah pembicaraanya.
Kami sekarang duduk diatas rumput dan saling berhadapan.
Tiba-tiba aku mulai mengerti maksud pak Abas “Oh, jadi selama ini anda telah
mengajak saya menyusuri sumber inspirasi anda, pak?” Astaga, mungkinkah selama
ini lari pagi yang begitu menyusahkan itu telah dirancang sedemikian rupa oleh
pak Abas untuk membantuku melatih apa dan bagaimana cara mendapat inspirasi.
Mungkin ia ingin aku dan Gino mempelajari cara berpikirnya. Ia ingin kita bisa
berkarya seperti bagaimana ia menghasilkan karya.
“Hah? Inspirasi? apa itu? bukan itu maksud saya, Wisnu.
Memangnya menurut kamu semua karya saya hanya berlatar belakang tempat-tempat
ini saja? Nggak, kan. Lari pagi ini bukan sumber inspirasi saya.” Ah, iya,
benar juga. Semua karya Pak Abas tidak melulu bertema tentang daerah ini, aku
tahu itu. Aku yang baru menyadari kesalahan konsepsiku itu pun hanya bisa
ber-‘ohh’.
“Saya ingin kamu mengerti, seorang pelukis harus bisa
membangun dan mengeksplorasi alam pikiranya sendiri dalam menghasilkan sebuah
karya. Jangan hanya mengandalkan Inspirasi.” Ia berhenti sesaat, tahu kalau aku
sedang binging dengan maksud perenjelasannya. Mungkin ia sedang memikirkan cara
terbaik agar aku paham. “kita harus bisa memahami diri sendiri, menyelami perasaan
dan pemikiran terdalam kita, dan mengerti bagaimana cara mengekspresikannya.
Setiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda. Ada yang melakukanya dengan
bermeditasi, ada yang dengan meminum kopi, ada yang mendengarkan musik,
berenang, menari, bernyanyi, hingga tidur. Entah bagaimana denganmu, tapi itu
semua bisa saya dapat dengan melakukan lari pagi.”
Aku semakin tidak
mengerti apa yang ia bicarakan. Merasa seperti orang bodoh, aku hanya duduk
memperhatikan tanpa tahu apa maksudnya. “Yah, bukannya saya ingin memaksakan
metode lari pagi saya itu padamu, itu semua kan tergantung dirimu sendiri. Saya
hanya ingin memberikan sebuah contoh untuk kamu.” Aku tetap saja tidak bisa
menangkap maksudnya. Pak Abas pun sepertinya mulai menyerah.
“Sekarang kamu sini. Tarik napas dalam-dalam.” Ia
memposisikanku hingga aku kini berbaring diatas rumput menghadap ke langit.
“Untuk pertama, apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?” Sebenarnya aku tidak
sedang memikirkan apapun saat ini. Tapi karena aku membutuhkan satu jawaban
instan, jadi aku hanya mengatakan apa saja yang terlintas di pikiranku saat itu.
“Hanya sebuah langit berisi awan putih,” kataku ragu. Dan
Ia sama sekali tidak puas dengan jawabanku.
“Coba lebih keras Lagi!” Bentakanya membuatku terkejut.
“Jangan hanya terpaku pada apa yang selama ini kamu lihat. Tutup mata kamu!”
Aku sangat tidak menyangka, ia kini terdengar seperi baru lulus dari sekolah
militer. Aku pun segera menutup mataku.
“Jangan dipikirkan! Rasakan saja, apa yang selama ini
bersembunyi dibalik pikiran terdalammu. Sesuatu yang menunggu untuk
dikeluarkan.” Kata-katanya terus terulang di kepalaku. Jangan dipikirkan. Jangan dipikirkan. Aku tidak berani mengeluarkan
suara sedikitpun. “Sesuatu yang mengganggumu saat kamu menutup mata ketika akan
tidur. Suatu de ja vu yang tiba-tiba datang dan pergi. Jelajahilah alam bawah
sadarmu. Buka hatimu dan rasakan apa yang selama ini kamu rasakan.” Ia
terdengar semakin tidak sabar. “Jangan hanya dipikirkan!” Adrenalinku semakin
terpacu “Rasakan!”
Dan sesampainya di rumah, untuk pertama kalinya, Pak Abas
mengijinkanku melukis .
Hari ke 25
“Selama bertahun-tahun saya sudah melukis dan melihat
lukisan dari ratusan pelukis berbeda.” Pak Abas memulai pembicaraan. ”Selama
itu, bahkan sampai sekarang pun, saya masih belajar untuk benar-benar ‘melihat’
tiap lukisan dihadapan saya. Asal kamu tahu ya, bukan hanya gambar atau coretan
tangan saja yang bisa dilihat dari sebuah lukisan.” Pak Abas mulai mendekatiku
yang sedang mencoreti kanvas.
“Setiap luksan memiliki jiwa, makna dan pesan yang
berbeda. Beberapa memiliki pesan tersembunyi, sengaja atau tidak. Bahkan banyak
pelukis yang tidak benar-benar tahu pesan yang ia siratkan dalam coretanya
sendiri. Lukisan adalah cermin kepribadian. Jiwa terdalam pelukisnya. Dengan melihat
sebuah lukisan, kita bisa membaca karakter dari pelukisnya. Melukis dan melihat
lukisan itu seperti membaca dan menulis bagi saya.”
Pak Abas mulai membandingkan kedua lukisan didepanku.
Lukisan pertama adalah yang kubuat lima hari yang lalu, dan satunya lagi masih
berupa lukisan setengah jadi karena baru mulai kubuat. Ia memandang dua lukisan
itu dengan tatapan serius, hingga aku mulai bertanya-tanya apa yang sedang ada
dalam pikiranya. “Jadi, menurut anda karakter saya bagaimana, Pak?”
“Menrut saya, kedua lukisan ini memiliki karakter yang
sangat berbeda, tapi jelas terlihat kedua lukisan ini berasal dari satu orang
yang sama. Mungkin pelukisnya sedang mengalami suatu kebimbangan,” Pak abas
menatapku.
Bagiku, kedua lukisanku itu hanyalah dua lukisan abstrak
yang kubiat tanpa memberi pesan khusus.
Lukisan pertama hanya bermakna bintang-bintang dan keadaan di malam
hari. Dan lukisan yang satunya hanya berisi bentuk-bentuk bangun geometri yang
saling bertautan. Aku hanya menyapukan apa yang ada dalam pikiranku saat itu,
dan aku tidak menyangka kalau ternyata lukisan ini menyimpan arti yang lebih.
“Dalam lukisan pertama, kamu adalah seorang pribadi yang tangguh,
ambisius dan tidak mudah merasa kecewa. Sedangkan pada lukisan kedua ini
berbeda lagi, kamu adalah seorang yang fleksibel, logis dan senang berbagi
dengan orang di sekitarmu. Namun secara keseluruhan keduanya menunjukkan sifat
yang sama. Sebuah karakter yang sebelumnya tidak pernah ada dalam rumah ini.
Bahkan Gino yang yang masih anak-anak pun tidak memilikinya sekuat dirimu. Kamu
memiliki jiwa optimistik yang sangat kuat.”
Hari ke 31
Seorang pria paruh baya duduk di sebuah ruang makan dalam
diam bersama dengan seorang bocah. Mereka hanya duduk menatap sebuah bungkusan
di atas meja di depanya tanpa menunjukan ekspresi apapun. Pria itu pun membuka
dan mengeluarkan isi bungkusan tersebut. Sebuah kotak makan yang masih hangat dan sebuah amplop yang cukup besar. Ia
membuka amplop tesebut, sepucuk surat keluar dari dalamnya.
Pak Abas, Gino, saya tidak akan
pernah bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya saya untuk satu bulan terakhir
ini. Anda tidak akan pernah mengerti bagaimana saya merasa amat beruntung bisa
berada di tempat ini. Terima kasih banyak.
Di sini saya sertakan sisa
uang pembayaranya. Dan ini adalah Nikujaga buatan saya, selamat menikmati.
Sekali lagi, terima kasih
banyak.
Wisnu Darmawan.
Tanpa berkata-kata, bocah itu membuka kotak makan di
depanya dan mulai mengambil di piringnya, diikuti pria itu. Mereka pun
menyantap makanan Jepang tersebut dalam diam. Bukan keadaan ‘diam’ yang
menyiratkan ketegangan, namun ‘diam’ yang hanya menunjukkan kedamaian.
Satu-satunya yang merusak kesunyian sempurna diantara
mereka hanyalah suara gemeletuk sumpit dari pria tua. Ia sepertiya kesulitan
menggunakan sumpit dan makananya sempat terlepas beberapa kali. Bocah yang
duduk di depanya itu hanya memandanginya selama beberapa saat. Dan untuk
pertama kalinya, dinding kesunyian diantara mereka seolah runtuh.
“Hahahaah..” bocah tersebut tertawa kecil. Ia melanjutkan
makananya dengan senyuman lebar.
Pria itu terlihat begitu terkejut. Awalnya ia hanya bisa
membalasnya dengan senyuman ragu dan memandangi bocah itu untuk beberapa detik.
Tak lama kemudian ia pun ikut tertawa bersamanya. Dan mereka terus tertawa
seperti itu selama beberapa sesaat dengan canggung.
Tanpa si bocah sadari, pria itu meneteskan air mata
dengan tatapan takjub.
*Create by : Ulfi H