Sore itu, kami sedang asyik membakar
jagung, tiba-tiba, tiin..tiin.. salah seorang temanku yang bernama Dini datang.
Membawa motor matic berwarna pinknya. Hem..emang nih cewek bener-bener
kecewekan banget sih. Udah motornya pink, helmnya pink, tasnya juga pink, tapi
kenapa bajunya nggak pink sekalian ya…Namun, salah satu temanku malah
marah-marah gara-gara klakson motor Dini membuatnya kaget.
“ Whoi..kira-kira dong!
Kalo aku mati kaget gimana?” kata Aya.
Memang sih, Aya nih
cenderung sensitif dan emosian banget kayak beruang kutub yang mau hibernasi.
Kalau udah marah-marah, waduh bisa kacau seluruh isi rumah, untungnya ini di
halaman nggak di dalam rumah. Tapi, di sisi kesensitifannya, dia yang paling
pinter mancing loh. Entah mancing ikan atau mancing kemarahan orang. Yang jelas
dia paling hobby mancing.
“ Iya maaf, aku lupa kalo kamu kan orangnya emosian
banget. Eh keceplosan.” Kata Dini. Semuanya jadi tertawa melihat ekspresi lucu
wajah Aya yang mau marah tapi juga nggak bisa nahan ketawa.
“Ehm…Ay, besok pergi mancing yuk ke sungai. Kan asyik
kalo dapet ikan, terus kita bakar sama-sama deh. Daripada bakar jagung terus
kayak gini.” Kata Dini.
“Idiih..kamu jadi hobby
mancing nih? Sejak kapan?” Tanya Aya.
“Udah lah, kamu mau
nggak?”
“ Iya-iya, aku mau.
Gimana dengan kamu Rin?” Tanya Aya padaku.
“ Ehm, gimana yah..iya
deh aku mau.” jawabku
“ Nha, gitu dong kamu
kan belum pernah mancing bareng kami.” Kata Aya
“ Yaudah. Besok jam 8
ya..” kata Dini
“ oke” jawab Aya.
Keesokan harinya di sungai, aku sudah tiba lebih dulu
daripada Aya dan Dini. “Ehm, mana mereka ya?” ucapku lirih. Ku amati sekitarku.
Tak lama kemudian Aya dan Dini datang bersama. Seperti biasa, Dini datang
membawa motor matic pink, helm pink, dan tas kecil berwarna pink. Namun kali
ini dia juga memakai baju pink.
“ Ini dia Miss.Pink,
dari tadi aku tunggu.” Kataku kepada Dini.
“ Ehm, sorry kalo buat
kamu nunggu terlalu lama. Gara-gara ada sedikit masalah sama pencernaan.
Hehehe.” Jawab Dini tanpa berdosa.
“ Yaudah, ayo kita cari tempat yang enak biar Pewe.” Ajak
Aya. Akhirnya kami menemukan tempat nyaman dibawah pohon yang cukup teduh. Kami
mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk memancing. Ketika aku
mengeluarkan cacing dari kantong plastikku, eh..si Dini teriak ketakutan.
“Aahh.. Jangan pake cacing dong, aku geli.”
Mengetahui kalau Dini
takut cacing, aku malah menjahilinya terus dengan cacing di tanganku. Dia
semakin ketakutan. Tapi lama-kelamaan aku menjadi kasihan. Akhirnya ku hentikan
tindakan usilku ini.
“ Yee..dapat ikan.” Teriak Aya.
Hemm..memang cewek ini
bakat banget ya mancing ikan.
“ Hebat kamu Ay.” Ucapku. “Ah, itu bukan
apa-apa.” Jawab Aya. Tiba-tiba Dini ikut-ikutan bicara. “Aku juga pinter
mancing kok.”
“Mancing apaan? Mancing
hatinya dia ta?” Jawabku. Wajah Dini jadi merah merona. Dia malu nih ceritanya.
Tiik..tiik..tiik.. Seakan-akan jarum jam berdetak keras.
Tiba-tiba, “Heh..aku dapat ikan” teriakku dengan penuh kegirangan. Namun tak
dihiraukan Aya dan Dini yang fokus pada aktivitas mereka masing-masing. Aya
tiba-tiba juga berteriak karena mendapatkan ikan. “Yee…dapat ikan.” Teriak Aya.
Kemudian, aku dan Aya mengumpulkan ikan yang kami dapat ke dalam ember.
“Banyak ya ikan yang kita dapat.” kata Aya. Aku pun mengiyakan
perkataan Aya.
“Ay, kamu lihat orang
itu nggak?” kataku kepada Aya sambil menunjuk seorang Pak Tua dengan tampang
menyeramkan yang membawa kantong besar.
“Iya. Kenapa dia dari
tadi kok mengawasi kita ya?” jawab Aya.
“Jangan-jangan” kataku.
Jeng…jeng…
Kami berdua pun berjalan ketakutan menuju Dini
yang sedang asyik mendengarkan lagunya Adelle Someone Like You. Seperti biasa
dengan tampang cueknya Dini hanya melirik kami sekilas.
“Din,
kamu nggak sadar ta kalau dari tadi kita diamati seseorang?”. Ucap Aya. Tapi
Dini tetap saja cuek dan terus mendengarkan lagu. Karena Aya merasa jengkel,
headset yang terpasang di telinga Dini pun langsung ditarik olehnya.
“Din, kamu dengar kita
nggak sih” tanyaku.
Dengan entengnya Dini
menjawab, “Iya. Orang yang mana sih?”
Kami langsung menunjuk
Pak Tua yang menyeramkan itu. Kemudian Dini mengajak kami pindah mencari tempat
lain.
“Disini aja. Ayo mancing lagi” kata Dini. Kami bertiga
melanjutkan memancing. Ketika kutengok kebelakang, ternyata Pak Tua mengikuti
kami. “Ay, Pak Tua itu mengikuti kita” kataku kepada Aya. “Mana?” jawab Aya.
Aku menunjuk dengan diam-diam.
“Aduuh. Orang itu
maunya apa sih? Kenapa selalu mengikuti kita? Sejak tadi dia memandangi kita.”
Kata Aya. Aku menjadi takut sekaligus bingung. Si Dini malah berpikiran yang
enggak-enggak.
“Jangan-jangan dia mau
menculik kita.” Ucap Dini. “Jangan-jangan iya. Sekarang kan marak tuh yang
namanya penculikan.” Kata Aya.
Kami
bertiga menjadi semakin takut karena prasangka yang telah kami buat. Karena tak
mau hal-hal buruk terjadi pada kami, aku mengajak Aya dan Dini untuk pindah
tempat lagi. Ketika sedang buru-buru membereskan barang-barang kami,
tiba-tiba…Bruak!! Aya terjatuh karena tersandung batu ketika sedang berlari.
Pak Tua itu semakin mendekat dengan langkah kaki terseret. Wajahnya yang seram
dan suara terbatuk-batuk membuat kami semakin ketakutan. Namun sial, kaki Aya
tersangkut di sela-sela batu sedangkan Pak Tua semakin mendekati kami.
“Aduuh…gimana ini?” kata Dini cemas.
“Ayo cepat, tolong aku” kata Aya dengan suara
ketakutan.
Terus menerus kami coba
menarik Aya namun tak kunjung bisa.
Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahuku. “Whoaaa..!!!”
teriakku menggema. Aku dan Dini ingin lari namun Aya belum juga terlepas dari masalahnya. Ketika
kutengok bahwa itu adalah tangan Pak Tua, keringat dinginku pun keluar. Badanku
menjadi lemas. Aku bingung akan melakukan apa sementara Dini terus menolong
Aya.
“Rin, lari…lari…!” teriak Aya dan Dini. Namun kakiku
terasa berat untuk dapat berlari. Keseimbanganku semakin berkurang
hampir-hampir mau pingsan tetapi tiba-tiba, “Neng, butuh bantuan?” kata Pak Tua
dengan suara seraknya. Klontang… aku terbelalak dengan kata-kata yang
dilontarkan Pak Tua.
Pak
Tua itu pun membantu untuk melepaskan kaki Aya dari himpitan batu. Aku yang
tadi hampir pingsan tak dapat menyangka kalau Pak Tua datang kesini untuk
membantu kami.
Akhirnya Aya dapat selamat. Kami tak dapat berkata-kata
apapun kepada Pak Tua. Hanya satu kata yang mampu terucap. “Nuwun.” Pak Tua itu
pun membalas kami dengan senyuman. Dia juga meminta maaf karena telah membuat
kami takut. Karena tujuan Pak Tua hanya ingin meminta ikan yang kami dapat
untuk dia mengisi perutnya yang sudah kosong selama 2 hari. Dengan senang hati,
kami membagi ikan tersebut dengan Pak Tua.
Kemudian Aya mempunyai usul untuk membakar ikan yang
telah kami dapat bersama-sama dengan Pak Tua sebagi rasa terima kasih kami. Pak
Tua setuju, kami pun membuat perapian kecil untuk membakar ikan di bawah pohon
yang rindang.
Sementara
aku membakar ikan, Pak Tua berbagi cerita kepada Aya dan Dini mengenai
pengalaman hidupnya. Ternyata dia sosok yang berjasa dalam memerdekakan negara
ini. Dibalik penampilan lusuhnya, beliau adalah seseorang yang baik hati dan
hangat. Kami bertiga pun menikmati acara bakar ikan kami bersama Pak Tua.
*Create By : RNF


0 komentar:
Posting Komentar