Jumat, 10 Agustus 2012

Kisah Aneh di Pinggir Kali


          Sore itu, kami sedang asyik membakar jagung, tiba-tiba, tiin..tiin.. salah seorang temanku yang bernama Dini datang. Membawa motor matic berwarna pinknya. Hem..emang nih cewek bener-bener kecewekan banget sih. Udah motornya pink, helmnya pink, tasnya juga pink, tapi kenapa bajunya nggak pink sekalian ya…Namun, salah satu temanku malah marah-marah gara-gara klakson motor Dini membuatnya kaget.
“ Whoi..kira-kira dong! Kalo aku mati kaget gimana?” kata Aya.
Memang sih, Aya nih cenderung sensitif dan emosian banget kayak beruang kutub yang mau hibernasi. Kalau udah marah-marah, waduh bisa kacau seluruh isi rumah, untungnya ini di halaman nggak di dalam rumah. Tapi, di sisi kesensitifannya, dia yang paling pinter mancing loh. Entah mancing ikan atau mancing kemarahan orang. Yang jelas dia paling hobby mancing.
            “ Iya maaf, aku lupa kalo kamu kan orangnya emosian banget. Eh keceplosan.” Kata Dini. Semuanya jadi tertawa melihat ekspresi lucu wajah Aya yang mau marah tapi juga nggak bisa nahan ketawa.
            “Ehm…Ay, besok pergi mancing yuk ke sungai. Kan asyik kalo dapet ikan, terus kita bakar sama-sama deh. Daripada bakar jagung terus kayak gini.” Kata Dini.
“Idiih..kamu jadi hobby mancing nih? Sejak kapan?” Tanya Aya.
“Udah lah, kamu mau nggak?”
“ Iya-iya, aku mau. Gimana dengan kamu Rin?” Tanya Aya padaku.
“ Ehm, gimana yah..iya deh aku mau.” jawabku
“ Nha, gitu dong kamu kan belum pernah mancing bareng kami.” Kata Aya
“ Yaudah. Besok jam 8 ya..” kata Dini
“ oke” jawab Aya.
            Keesokan harinya di sungai, aku sudah tiba lebih dulu daripada Aya dan Dini. “Ehm, mana mereka ya?” ucapku lirih. Ku amati sekitarku. Tak lama kemudian Aya dan Dini datang bersama. Seperti biasa, Dini datang membawa motor matic pink, helm pink, dan tas kecil berwarna pink. Namun kali ini dia juga memakai baju pink.
“ Ini dia Miss.Pink, dari tadi aku tunggu.” Kataku kepada Dini.
“ Ehm, sorry kalo buat kamu nunggu terlalu lama. Gara-gara ada sedikit masalah sama pencernaan. Hehehe.” Jawab Dini tanpa berdosa.
            “ Yaudah, ayo kita cari tempat yang enak biar Pewe.” Ajak Aya. Akhirnya kami menemukan tempat nyaman dibawah pohon yang cukup teduh. Kami mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk memancing. Ketika aku mengeluarkan cacing dari kantong plastikku, eh..si Dini teriak ketakutan.
            “Aahh.. Jangan pake cacing dong, aku geli.”
Mengetahui kalau Dini takut cacing, aku malah menjahilinya terus dengan cacing di tanganku. Dia semakin ketakutan. Tapi lama-kelamaan aku menjadi kasihan. Akhirnya ku hentikan tindakan usilku ini.
            “ Yee..dapat ikan.” Teriak Aya.
Hemm..memang cewek ini bakat banget ya mancing ikan.
 “ Hebat kamu Ay.” Ucapku. “Ah, itu bukan apa-apa.” Jawab Aya. Tiba-tiba Dini ikut-ikutan bicara. “Aku juga pinter mancing kok.”
“Mancing apaan? Mancing hatinya dia ta?” Jawabku. Wajah Dini jadi merah merona. Dia malu nih ceritanya.
            Tiik..tiik..tiik.. Seakan-akan jarum jam berdetak keras. Tiba-tiba, “Heh..aku dapat ikan” teriakku dengan penuh kegirangan. Namun tak dihiraukan Aya dan Dini yang fokus pada aktivitas mereka masing-masing. Aya tiba-tiba juga berteriak karena mendapatkan ikan. “Yee…dapat ikan.” Teriak Aya. Kemudian, aku dan Aya mengumpulkan ikan yang kami dapat ke dalam ember.
            “Banyak ya ikan yang kita dapat.” kata Aya. Aku pun mengiyakan perkataan Aya.
“Ay, kamu lihat orang itu nggak?” kataku kepada Aya sambil menunjuk seorang Pak Tua dengan tampang menyeramkan yang membawa kantong besar.
“Iya. Kenapa dia dari tadi kok mengawasi kita ya?” jawab Aya.
“Jangan-jangan” kataku. Jeng…jeng…
 Kami berdua pun berjalan ketakutan menuju Dini yang sedang asyik mendengarkan lagunya Adelle Someone Like You. Seperti biasa dengan tampang cueknya Dini hanya melirik kami sekilas.
“Din, kamu nggak sadar ta kalau dari tadi kita diamati seseorang?”. Ucap Aya. Tapi Dini tetap saja cuek dan terus mendengarkan lagu. Karena Aya merasa jengkel, headset yang terpasang di telinga Dini pun langsung ditarik olehnya.
“Din, kamu dengar kita nggak sih” tanyaku.
Dengan entengnya Dini menjawab, “Iya. Orang yang mana sih?”
Kami langsung menunjuk Pak Tua yang menyeramkan itu. Kemudian Dini mengajak kami pindah mencari tempat lain.
            “Disini aja. Ayo mancing lagi” kata Dini. Kami bertiga melanjutkan memancing. Ketika kutengok kebelakang, ternyata Pak Tua mengikuti kami. “Ay, Pak Tua itu mengikuti kita” kataku kepada Aya. “Mana?” jawab Aya. Aku menunjuk dengan diam-diam.
“Aduuh. Orang itu maunya apa sih? Kenapa selalu mengikuti kita? Sejak tadi dia memandangi kita.” Kata Aya. Aku menjadi takut sekaligus bingung. Si Dini malah berpikiran yang enggak-enggak.
“Jangan-jangan dia mau menculik kita.” Ucap Dini. “Jangan-jangan iya. Sekarang kan marak tuh yang namanya penculikan.” Kata Aya.
Kami bertiga menjadi semakin takut karena prasangka yang telah kami buat. Karena tak mau hal-hal buruk terjadi pada kami, aku mengajak Aya dan Dini untuk pindah tempat lagi. Ketika sedang buru-buru membereskan barang-barang kami, tiba-tiba…Bruak!! Aya terjatuh karena tersandung batu ketika sedang berlari. Pak Tua itu semakin mendekat dengan langkah kaki terseret. Wajahnya yang seram dan suara terbatuk-batuk membuat kami semakin ketakutan. Namun sial, kaki Aya tersangkut di sela-sela batu sedangkan Pak Tua semakin mendekati kami. “Aduuh…gimana ini?” kata Dini cemas.
 “Ayo cepat, tolong aku” kata Aya dengan suara ketakutan.
Terus menerus kami coba menarik Aya namun tak kunjung bisa.
            Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahuku. “Whoaaa..!!!” teriakku menggema. Aku dan Dini ingin lari namun  Aya belum juga terlepas dari masalahnya. Ketika kutengok bahwa itu adalah tangan Pak Tua, keringat dinginku pun keluar. Badanku menjadi lemas. Aku bingung akan melakukan apa sementara Dini terus menolong Aya.
            “Rin, lari…lari…!” teriak Aya dan Dini. Namun kakiku terasa berat untuk dapat berlari. Keseimbanganku semakin berkurang hampir-hampir mau pingsan tetapi tiba-tiba, “Neng, butuh bantuan?” kata Pak Tua dengan suara seraknya. Klontang… aku terbelalak dengan kata-kata yang dilontarkan Pak Tua.
Pak Tua itu pun membantu untuk melepaskan kaki Aya dari himpitan batu. Aku yang tadi hampir pingsan tak dapat menyangka kalau Pak Tua datang kesini untuk membantu kami.
            Akhirnya Aya dapat selamat. Kami tak dapat berkata-kata apapun kepada Pak Tua. Hanya satu kata yang mampu terucap. “Nuwun.” Pak Tua itu pun membalas kami dengan senyuman. Dia juga meminta maaf karena telah membuat kami takut. Karena tujuan Pak Tua hanya ingin meminta ikan yang kami dapat untuk dia mengisi perutnya yang sudah kosong selama 2 hari. Dengan senang hati, kami membagi ikan tersebut dengan Pak Tua.
            Kemudian Aya mempunyai usul untuk membakar ikan yang telah kami dapat bersama-sama dengan Pak Tua sebagi rasa terima kasih kami. Pak Tua setuju, kami pun membuat perapian kecil untuk membakar ikan di bawah pohon yang rindang.
Sementara aku membakar ikan, Pak Tua berbagi cerita kepada Aya dan Dini mengenai pengalaman hidupnya. Ternyata dia sosok yang berjasa dalam memerdekakan negara ini. Dibalik penampilan lusuhnya, beliau adalah seseorang yang baik hati dan hangat. Kami bertiga pun menikmati acara bakar ikan kami bersama Pak Tua.

*Create By : RNF

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright My Collection 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.