Jumat, 10 Agustus 2012

Just For X-4


Di suatu sore yang dingin dan hujan lebat, aku duduk termenung di atas tempat tidurku. Tiba-tiba, kreek…pintu kamarku terbuka. Seseorang bertubuh ramping dan berambut panjang telah berdiri di depan pintu kamarku. Ya, itu kakakku. Seorang mahasiswa Universitas ternama yang menempuh semester 4. Dengan gaya bicaranya yang bisa dibilang cukup dewasa datang menyapaku.
“Kamu kenapa?” Tanya kakak.         
“Nggak kok “ jawabku
“Ada masalah ta? Nggak apa-apa cerita aja.”
Aku semakin terdiam. Tak satu katapun mampu terucap. Ingin sekali aku bercerita, namun bibirku terasa kaku. Lidahku terasa beku untuk dapat mengungkapkan semuanya. Kenangan indah bersama teman-teman silih berganti di pikiranku membuat dada semakin sesak. Ingin terus kutahan, namun aku tak bisa. Akhirnya ku coba buka mulut dan bercerita.
“Kenapa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan?” tanyaku dengan nada datar.
“Ya memang seperti itulah hidup ini.” Jawab kakakku.
“Kakak?”
“Ya..”
“Ehm…” aku terdiam sesaat. “Aku, aku boleh cerita sesuatu kan?” tanyaku ragu-ragu.
“Tentu. Why not?” jawab kakakku dengan senang hati.
            Ku tarik nafas dalam-dalam. Setelah aku yakin, akhirnya aku mulai bercerita.
“Kenapa waktu begitu cepat berlalu? 1 tahun itu ternyata waktu yang singkat. Sepertinya, aku telah menemukan arti persahabatan. Setelah 1 tahun bersama, kami seperti telah menjadi sebuah keluarga, keluarga X-4. Suka maupun duka kami lalui bersama. Tetapi, kenapa harus ada perpisahan?” ceritaku terhenti dengan mata berkaca-kaca. Seakan-akan tangis tak dapat terbendung lagi. Namun aku terus menahan agar air mataku tak jatuh karena aku tak mau tampak cengeng di hadapan kakak tercintaku ini.
            Namun sepertinya kakak mengerti apa yang sedang aku rasakan.
 “Perpisahan itu hal yang wajar. Kamu masih akan tetap bersama mereka. Kakak tahu apa yang kamu rasakan. Teman-temanmu pasti juga merasakan hal yang sama.” Tutur kakakku.
“Tapi, apakah aku akan menemukan teman seperti mereka?” tanyaku dengan suara terisak.
“Teman tak dapat tergantikan. Ibarat bunga, teman-teman X-4 adalah bunga anggrek yang indah dan tahan lama, tak mudah layu seiring berjalanya waktu. Sedangkan teman barumu bagaikan bunga melati. Bermekaran tiap hari menghiasi hari-hari barumu. Bunga anggrek dan melati tak dapat tergantikan satu sama lain. Walaupun berada dalam tempat yang berbeda, yang satu di dalam pot yang satu di tanah, tetapi berada dalam kebun yang sama. Begitu juga temanmu. Walaupun berada dalam ruang yang berbeda, namun mereka berada dalam hati yang sama, yakni hatimu.” Ucap kakakku.
            Sejenak kurenungkan kata-kata kakak. Tak sadar air mata menetes. Lalu, sebuah kalimat terucap dari bibirku. “Apakah aku akan selalu bisa melihat mereka?” tanyaku
Kemudian dengan nada sabar kakakku menjawab, “Good friends are like stars. You don’t always see them but you know they are always there.” Setelah mengakhiri kata-katanya kakakku berdiri sambil berkata, “Kakak mau menyiapkan makanan dulu. Sudah, jangan menangis. Udah gede, gak boleh nangis ya.” Ucap kakak.
            Kupandangi kakak yang berjalan keluar  lalu perlahan menutup pintu kamarku. Aku termenung lagi memikirkan kata-kata kakak. Akhirnya kurebahkan tubuhku diatas kasur. Ku atur pernafasanku untuk menenangkan diri. Perlahan, aku mulai tenang dan merasa rileks. Aku memandangi seluruh sudut kamar hingga akhirnya mata pemberian Allah ini tertuju pada suatu benda. “It’s my diary” gumamku. Kemudian aku bangun dari tempat tidur untuk mengambil diary warna ungu dengan hiasan bintang pemberian sahabatku. Persis seperti apa yang dikatakan kakak. Sahabat seperti bintang.
            Diatas kursi dan meja belajar, aku membuka diary sambil memegang sebuah pulpen warna-warni. Sebuah inspirasi muncul di otakku.

Dear diary.
Hari ini adalah hari terakhir kami bersama. Karena lusa ujian telah tiba. Aku merasa sedih, bukan karena ujian datang tetapi karena kami harus berpisah. Teman-teman juga merasa demikian. Terlihat dari mereka, Dinda mengirim sms kepada teman-teman kalau hari ini terakhir belajar bersama di kelas X-4. Sama halnya dengan Si Mega, katanya kita tidak berpisah. Hanya ruang yang memisahkan kita. Kita tetap keluarga X-4. Sedangkan Hanum dan Maya selalu ingin menangis bila membicarakan perpisahan ini. Maya yang biasanya tidak pernah sekalipun menangis di sekolah, hanya karena kemarin hari terakhir kita,  dia sudah hampir menangis. Matanya berkaca-kaca. Waah..ternyata Si Maya ini cengeng juga ya.. :D
Si Ulfi malah kegirangan ketika aku berdo’a ingin satu kelas lagi dengannya XI IPA 1. Di lain sisi, Citra yang ngefans banget sama Peterpan ingin sekali menangis. Bukan secara fisik namun secara batin. Dia bilang “kita dan arek-arek sudah menemukan hubungan kekeluargaan yang erat, gak rela kalau dipisah”. Kalau memikirkan hal yang telah terjadi hari ini, aku jadi teringat waktu pertama kali bertemu. Sangat bertolak belakang dengan keadaan sekarang. Buktinya, aku dan Sito teman sebangku ku tak sehangat sekarang. Dulu kami sangat canggung. Teman-teman lain juga terasa asing bagiku. Namun, seiring berjalannya waktu kami menjadi semakin akrab. Persahabatan antara kami terjalin sempurna. Andaikan kita bisa bersama lagi, aku tak akan melupakan semua hal yang pernah kita lakukan.
Aku bersyukur karena Allah pernah mempertemukan kita dalam takdir yang begitu indah. Lengkap rasaya hari-hariku dalam 1 tahun ini bersama kalian semua. Tak bisa kupungkiri, hatiku terasa berat untuk berpisah. Namun hanya 1 hal yang aku pikirkan, perpisahan itu selalu ada karena kita pernah berjumpa, bersama dalam canda tawa dan bahagia. Biarlah tetes air mata yang tertumpah ini menjadi saksi jalinan ukhuwah yang selama ini kita simpul erat-erat. Aku ingin suatu hari nanti kita bisa bersama-sama kembali dalam suasana yang berbeda, dengan cita-cita dan asa yang telah kita wujudkan. Jadi, aku berharap  kalian tak menyesal pernah mengenalku. Kita akan menjadi sahabat selamanya.

Itulah kalimat yang dapat kutuliskan dalam buku diary ku. Bagian bawah buku ku gambar pelangi dengan pulpen warna-warni milikku. “Persahabatan kita bagai pelangi” kata-kata tersebut meluncur dari mulut. Cukup puas dengan gambar pelangi, buku diary pun ku tutup.
            Untuk menghibur hatiku di tengah sore yang sepi ini, sebuah lagu berjudul “Semua Tentang Kita” ku putar dai HP ku. Lirik demi lirik lagu membawaku terlarut dalam kenangan. Sungguh lagu ini sangat cocok dengan suasana hati dan perasaanku. Perlahan-lahan mataku tertutup untuk melepas semua beban di hari yang cukup melelahkan ini

* Create By : RNF 



Curcol.......(#Emergency#)

Boleh dong curhat dikit nih..! :D :D
Sebenernya cerpen ini dibuat penulis ketika dalam keadaan risau-risaunya...(haha, aku nggak mau sebut galau..anti banget )
Nah, waktu itu nih ceritanya waktu penulis lagi mandi, entah darimana datang sebuah inspirasi yang mungkin jatuh dari langit kali ya..? Tiba-tiba writer pengen banget buat nih cerpen. Abis mandi, si penulis langsung ambil buku Bahasa Inggrisnya yang emang sekalian buat oret-oretan...#Wah..kayak es campur.
Terus kata demi kata dia rangkai di berlembar-lembar kertas . Katanya sih lancar banget dia buat nih cerpen. Kalian tau kenapa?...
Soalnya, momennya pas. Waktu itu hari dimana perpisahannya dengan orang yang dia anggap berharga semakin dekat. Aish..jadi pengen nangis nih. *Ah lebay..
Ehm...si penulis bingung gimana mau nyeritain. Bener-bener ga bisa diungkapin dengan kata-kata. Terlalu..terlalu apa ya?.. terlalu indah mungkin yah.
Emang ya, sebuah kebersamaan yang udah menjadi sebuah ikatan persahabatan ga bisa dilupain gitu aja. Ga rela banget kalo harus dipisahkan. Terlalu so sweet mmen...:)

Jadi, pesen saya nih (ayo! ambil kertas ambil pulpen.. CATET..CATET..)
"Jangan pernah lupakan sahabat kalian. Jangan pernah abaikan mereka. Dan, jangan pernah sia-siain waktu yang ada untuk bersama-sama sahabat yang kalian sayangi. Ingatlah, mereka akan selalu bersama kita dalam tempat dan ruang yang berbeda. OK, Sahabat itu berharga banget.. :) "

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright My Collection 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.