Di suatu sore yang
dingin dan hujan lebat, aku duduk termenung di atas tempat tidurku. Tiba-tiba,
kreek…pintu kamarku terbuka. Seseorang bertubuh ramping dan berambut panjang telah
berdiri di depan pintu kamarku. Ya, itu kakakku. Seorang mahasiswa Universitas
ternama yang menempuh semester 4. Dengan gaya bicaranya yang bisa dibilang
cukup dewasa datang menyapaku.
“Kamu
kenapa?” Tanya kakak.
“Nggak kok “ jawabku
“Ada masalah ta? Nggak
apa-apa cerita aja.”
Aku semakin terdiam.
Tak satu katapun mampu terucap. Ingin sekali aku bercerita, namun bibirku
terasa kaku. Lidahku terasa beku untuk dapat mengungkapkan semuanya. Kenangan
indah bersama teman-teman silih berganti di pikiranku membuat dada semakin
sesak. Ingin terus kutahan, namun aku tak bisa. Akhirnya ku coba buka mulut dan
bercerita.
“Kenapa setiap ada
pertemuan pasti ada perpisahan?” tanyaku dengan nada datar.
“Ya memang seperti
itulah hidup ini.” Jawab kakakku.
“Kakak?”
“Ya..”
“Ehm…” aku terdiam
sesaat. “Aku, aku boleh cerita sesuatu kan?” tanyaku ragu-ragu.
“Tentu. Why not?” jawab
kakakku dengan senang hati.
Ku tarik nafas dalam-dalam. Setelah aku yakin, akhirnya
aku mulai bercerita.
“Kenapa waktu begitu
cepat berlalu? 1 tahun itu ternyata waktu yang singkat. Sepertinya, aku telah
menemukan arti persahabatan. Setelah 1 tahun bersama, kami seperti telah
menjadi sebuah keluarga, keluarga X-4. Suka maupun duka kami lalui bersama.
Tetapi, kenapa harus ada perpisahan?” ceritaku terhenti dengan mata
berkaca-kaca. Seakan-akan tangis tak dapat terbendung lagi. Namun aku terus
menahan agar air mataku tak jatuh karena aku tak mau tampak cengeng di hadapan
kakak tercintaku ini.
Namun sepertinya kakak mengerti apa yang sedang aku
rasakan.
“Perpisahan itu hal yang wajar. Kamu masih
akan tetap bersama mereka. Kakak tahu apa yang kamu rasakan. Teman-temanmu
pasti juga merasakan hal yang sama.” Tutur kakakku.
“Tapi, apakah aku akan
menemukan teman seperti mereka?” tanyaku dengan suara terisak.
“Teman tak dapat
tergantikan. Ibarat bunga, teman-teman X-4 adalah bunga anggrek yang indah dan
tahan lama, tak mudah layu seiring berjalanya waktu. Sedangkan teman barumu
bagaikan bunga melati. Bermekaran tiap hari menghiasi hari-hari barumu. Bunga
anggrek dan melati tak dapat tergantikan satu sama lain. Walaupun berada dalam
tempat yang berbeda, yang satu di dalam pot yang satu di tanah, tetapi berada
dalam kebun yang sama. Begitu juga temanmu. Walaupun berada dalam ruang yang
berbeda, namun mereka berada dalam hati yang sama, yakni hatimu.” Ucap kakakku.
Sejenak kurenungkan kata-kata kakak. Tak sadar air mata
menetes. Lalu, sebuah kalimat terucap dari bibirku. “Apakah aku akan selalu
bisa melihat mereka?” tanyaku
Kemudian dengan nada
sabar kakakku menjawab, “Good friends are like stars. You don’t always see them
but you know they are always there.” Setelah mengakhiri kata-katanya kakakku
berdiri sambil berkata, “Kakak mau menyiapkan makanan dulu. Sudah, jangan
menangis. Udah gede, gak boleh nangis ya.” Ucap kakak.
Kupandangi kakak yang berjalan keluar lalu perlahan menutup pintu kamarku. Aku
termenung lagi memikirkan kata-kata kakak. Akhirnya kurebahkan tubuhku diatas
kasur. Ku atur pernafasanku untuk menenangkan diri. Perlahan, aku mulai tenang
dan merasa rileks. Aku memandangi seluruh sudut kamar hingga akhirnya mata
pemberian Allah ini tertuju pada suatu benda. “It’s my diary” gumamku. Kemudian
aku bangun dari tempat tidur untuk mengambil diary warna ungu dengan hiasan
bintang pemberian sahabatku. Persis seperti apa yang dikatakan kakak. Sahabat
seperti bintang.
Diatas kursi dan meja belajar, aku membuka diary sambil
memegang sebuah pulpen warna-warni. Sebuah inspirasi muncul di otakku.
Dear
diary.
Hari ini adalah hari terakhir kami
bersama. Karena lusa ujian telah tiba. Aku merasa sedih, bukan karena ujian
datang tetapi karena kami harus berpisah. Teman-teman juga merasa demikian.
Terlihat dari mereka, Dinda mengirim sms kepada teman-teman kalau hari ini
terakhir belajar bersama di kelas X-4. Sama halnya dengan Si Mega, katanya kita
tidak berpisah. Hanya ruang yang memisahkan kita. Kita tetap keluarga X-4.
Sedangkan Hanum dan Maya selalu ingin menangis bila membicarakan perpisahan
ini. Maya yang biasanya tidak pernah sekalipun menangis di sekolah, hanya
karena kemarin hari terakhir kita, dia
sudah hampir menangis. Matanya berkaca-kaca. Waah..ternyata Si Maya ini cengeng
juga ya.. :D
Si Ulfi malah kegirangan ketika aku
berdo’a ingin satu kelas lagi dengannya XI IPA 1. Di lain sisi, Citra yang
ngefans banget sama Peterpan ingin sekali menangis. Bukan secara fisik namun
secara batin. Dia bilang “kita dan arek-arek sudah menemukan hubungan
kekeluargaan yang erat, gak rela kalau dipisah”. Kalau memikirkan hal yang
telah terjadi hari ini, aku jadi teringat waktu pertama kali bertemu. Sangat
bertolak belakang dengan keadaan sekarang. Buktinya, aku dan Sito teman
sebangku ku tak sehangat sekarang. Dulu kami sangat canggung. Teman-teman lain
juga terasa asing bagiku. Namun, seiring berjalannya waktu kami menjadi semakin
akrab. Persahabatan antara kami terjalin sempurna. Andaikan kita bisa bersama
lagi, aku tak akan melupakan semua hal yang pernah kita lakukan.
Aku bersyukur karena Allah pernah
mempertemukan kita dalam takdir yang begitu indah. Lengkap rasaya hari-hariku
dalam 1 tahun ini bersama kalian semua. Tak bisa kupungkiri, hatiku terasa
berat untuk berpisah. Namun hanya 1 hal yang aku pikirkan, perpisahan itu
selalu ada karena kita pernah berjumpa, bersama dalam canda tawa dan bahagia.
Biarlah tetes air mata yang tertumpah ini menjadi saksi jalinan ukhuwah yang
selama ini kita simpul erat-erat. Aku ingin suatu hari nanti kita bisa
bersama-sama kembali dalam suasana yang berbeda, dengan cita-cita dan asa yang
telah kita wujudkan. Jadi, aku berharap kalian tak menyesal pernah mengenalku. Kita
akan menjadi sahabat selamanya.
Itulah kalimat yang
dapat kutuliskan dalam buku diary ku. Bagian bawah buku ku gambar pelangi
dengan pulpen warna-warni milikku. “Persahabatan kita bagai pelangi” kata-kata
tersebut meluncur dari mulut. Cukup puas dengan gambar pelangi, buku diary pun
ku tutup.
Untuk menghibur hatiku di tengah
sore yang sepi ini, sebuah lagu berjudul “Semua Tentang Kita” ku putar dai HP
ku. Lirik demi lirik lagu membawaku terlarut dalam kenangan. Sungguh lagu ini sangat
cocok dengan suasana hati dan perasaanku. Perlahan-lahan mataku tertutup untuk
melepas semua beban di hari yang cukup melelahkan ini* Create By : RNF
Curcol.......(#Emergency#)
Boleh dong curhat dikit nih..! :D :DSebenernya cerpen ini dibuat penulis ketika dalam keadaan risau-risaunya...(haha, aku nggak mau sebut galau..anti banget )
Nah, waktu itu nih ceritanya waktu penulis lagi mandi, entah darimana datang sebuah inspirasi yang mungkin jatuh dari langit kali ya..? Tiba-tiba writer pengen banget buat nih cerpen. Abis mandi, si penulis langsung ambil buku Bahasa Inggrisnya yang emang sekalian buat oret-oretan...#Wah..kayak es campur.
Terus kata demi kata dia rangkai di berlembar-lembar kertas . Katanya sih lancar banget dia buat nih cerpen. Kalian tau kenapa?...
Soalnya, momennya pas. Waktu itu hari dimana perpisahannya dengan orang yang dia anggap berharga semakin dekat. Aish..jadi pengen nangis nih. *Ah lebay..
Ehm...si penulis bingung gimana mau nyeritain. Bener-bener ga bisa diungkapin dengan kata-kata. Terlalu..terlalu apa ya?.. terlalu indah mungkin yah.
Emang ya, sebuah kebersamaan yang udah menjadi sebuah ikatan persahabatan ga bisa dilupain gitu aja. Ga rela banget kalo harus dipisahkan. Terlalu so sweet mmen...:)
Jadi, pesen saya nih (ayo! ambil kertas ambil pulpen.. CATET..CATET..)
"Jangan pernah lupakan sahabat kalian. Jangan pernah abaikan mereka. Dan, jangan pernah sia-siain waktu yang ada untuk bersama-sama sahabat yang kalian sayangi. Ingatlah, mereka akan selalu bersama kita dalam tempat dan ruang yang berbeda. OK, Sahabat itu berharga banget.. :) "


0 komentar:
Posting Komentar