Jumat, 10 Agustus 2012

Mimpiku, Inspirasiku



“Agh..” itulah satu-satunya kata yang keluar dari bibirku. Aku bingung apa yang harus kutulis. Di depan laptop aku terus berpikir mencari ide. Namun sepertinya otakku tak mau diajak kerjasama. Benar-benar tak ada inspirasi apapun. Kenapa otakku hari ini sangat buntu?.
            “Bagaimanapun caranya, aku harus membuat sebuah cerpen.” gumamku. Di bawah cahaya lampu kamarku, terus ku kais-kais pengalaman yang pernah aku alami. Namun tetap saja, tak sedikit pun ku dapatkan ide yang menarik. Karena terus memikirkan pekerjaan yang sedikit membosankan ini, mataku menjadi ingin mengatup.
            Aku berjalan menuju dapur untuk mencari sedikit makanan dan minuman untuk menahan kantuk yang menderaku. Sebungkus biskuit dan segelas susu menjadi teman perutku. Satu persatu biskuit ku habiskan. Dan akhirnya segelas susu meluncur ke tenggorokanku. Susu coklat hangat yang memang menjadi favoritku. Kata orang, tidak baik makan di malam hari, namun tak kuhiraukan kata-kata seperti itu. Bagiku yang terpenting adalah perutku kenyang, tak merasa mengantuk sehingga dapat meneruskan membuat cerpen yang perlu banyak pengorbanan ini.
            Kemudian kuteruskan pekerjaanku. Aku mencoba mencari inspirasi dari Mbah Google dengan keyword yang terus ku gonta-ganti. Namun hasilnya nihil. Tak satu inspirasi pun kudapatkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya akupun tertidur.
            Samar-samar ku telusuri lorong panjang yang terasa tiada ujung dan gelap gulita. Hanya ditemani cahaya lilin kutapakkan langkah demi langkahku. Kakiku rasanya sakit sekali seperti sudah berjalan berpuluh-puluh kilometer. Setelah beberapa lama, kutemukan cahaya putih yang cukup menyilaukan mata. Terlihat sebuah pintu yang tertutup rapat. Aku mencoba membukanya dengan sekuat tenaga. Akhirnya pintu terbuka juga.
            Ketika kulewati pintu tersebut, ternyata aku berada di sebuah ruangan besar dengan berbagai barang yang ada. Terlihat disana-sini dekorasi ruangan yang cukup menarik. Semua benda tertata rapi. Mulai dari kerajinan porselen sampai dengan lukisan Monalisa pun ada. “Wow..sungguh menakjubkan” ucapku lirih. Namun mataku tertuju pada sebuah pintu berwarna coklat dengan gambar bunga dan relief ukiran di permukaannya. Aku tertarik untuk membuka pintu tersebut.
            Kreek..dengan hati-hati ku buka pintu tersebut. Sungguh menakjubkan. Seisi ruangan ini dipenuhi peralatan laboratorium yang spektakuler. Sungguh tak dapat dipercaya. Mulai dari mikroskop, tabung reaksi, alat-alat ukur, bahkan proyek pembuatan roket pun ada. Dalam hatiku aku bertanya “Sebenarnya, aku dimana? ruangan siapa ini?”.
Tiba-tiba engsel pintu terbuka, seseorang berbaju ala scientist datang dengan rambut yang berantakan dan awut-awutan.
“Apa? It’s Einstein” ucapku dengan nada tak menyangka. Beliau menyapaku dengan bahasa Inggris. Aku pun menjawabnya dengan bahasa Inggris pula. Saat itu, ingin kujabat tangan Einstein tapi ternyata tiba-tiba…
            Kriing..kring..Ponselku yang berbunyi membuatku terbangun dari tidurku. Dengan mata yang masih agak mengatup, kulihat layar ponsel. Ternyata kakakku menelfon. Setelah cukup lama berbicara kuakhiri dengan salam. “Assalamu’alaikum” ucapku dan kakakku menjawab “Wa’alaikum salam, cepat tidur ya. Nice dream.” Terputuslah percakapanku dengan kakak.
            Ketika aku melihat jam dinding, “Ya Allah.” Ucapku. Aku lupa belum menyelesaikan pembuatan cerpenku karena ketiduran. Kini sudah hampir tengah malam. Aku terus mengais-ngais ide cerita yang akan kubuat. Tiing.. “Aha!” aku mendapatkan sebuah ide. Aku teringat mimpi indah yang baru saja aku alami.
            Ku nyalakan lagi laptopku dan ku buka program Ms.Word untuk mulai membuat. Dengan font Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5 ku ketik kata-demi kata menjadi satu kesatuan yang indah. Walaupun mimpiku tadi sedikit aneh, tapi aku percaya cerpen buatanku akan bagus. Dengan bumbu-bumbu fantasi dan impian ku buat cerpenku semenarik mungkin. Tak lupa juga kusisipkan pelajaran-pelajaran berharga dan motivasi hidup.
Bagaikan melewati lorong panjang gelap gulita hanya cahaya lilin yang menerangi. Namun apabila kita berhasil melewatinya dengan segala usaha yang kita miliki, cahaya putih berkilauan akan menyongsong dan menerangi pintu masuk dunia yang indah.
            “Manusia harus bisa melewati rintangan yang ada, apabila kita berusaha dengan keras, kebahagiaan akan datang menyongsong.” gumamku dengan nada puas. Akhirnya sebuah cerpen berjudul Mimpi Indah di Ujung Lorong Gulita berhasil ku selesaikan.
            “Tinggal di edit nih” kataku. Ku perbaiki ejaan kata yang salah. Beberapa saat kemudian selesai juga pekerjaan yang melelahkan ini. Dengan nama file Cerpenku, aku save file tersebut ke dalam flashdisk putih dan kumatikan laptop kesayanganku.
            “Ahh.. waktunya tidur.” ucapku. Namun, sebelum tidur, aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan gosok gigi. Sekembalinya di kamar, ku baringkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan kuregangkan otot-otot yang kaku. Dan dengan bacaan do’a sebelum tidur, aku berlayar ke dunia mimpi. 

*Create by : RNF
               

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright My Collection 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.