“Agh..”
itulah satu-satunya kata yang keluar dari bibirku. Aku bingung apa yang harus
kutulis. Di depan laptop aku terus berpikir mencari ide. Namun sepertinya
otakku tak mau diajak kerjasama. Benar-benar tak ada inspirasi apapun. Kenapa
otakku hari ini sangat buntu?.
“Bagaimanapun caranya, aku harus membuat sebuah cerpen.”
gumamku. Di bawah cahaya lampu kamarku, terus ku kais-kais pengalaman yang
pernah aku alami. Namun tetap saja, tak sedikit pun ku dapatkan ide yang
menarik. Karena terus memikirkan pekerjaan yang sedikit membosankan ini, mataku
menjadi ingin mengatup.
Aku berjalan menuju dapur untuk mencari sedikit makanan
dan minuman untuk menahan kantuk yang menderaku. Sebungkus biskuit dan segelas
susu menjadi teman perutku. Satu persatu biskuit ku habiskan. Dan akhirnya
segelas susu meluncur ke tenggorokanku. Susu coklat hangat yang memang menjadi
favoritku. Kata orang, tidak baik makan di malam hari, namun tak kuhiraukan
kata-kata seperti itu. Bagiku yang terpenting adalah perutku kenyang, tak
merasa mengantuk sehingga dapat meneruskan membuat cerpen yang perlu banyak
pengorbanan ini.
Kemudian kuteruskan pekerjaanku. Aku mencoba mencari
inspirasi dari Mbah Google dengan keyword yang terus ku gonta-ganti. Namun
hasilnya nihil. Tak satu inspirasi pun kudapatkan. Waktu sudah menunjukkan
pukul 9 malam. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya akupun
tertidur.
Samar-samar ku telusuri lorong panjang yang terasa tiada
ujung dan gelap gulita. Hanya ditemani cahaya lilin kutapakkan langkah demi
langkahku. Kakiku rasanya sakit sekali seperti sudah berjalan berpuluh-puluh
kilometer. Setelah beberapa lama, kutemukan cahaya putih yang cukup menyilaukan
mata. Terlihat sebuah pintu yang tertutup rapat. Aku mencoba membukanya dengan
sekuat tenaga. Akhirnya pintu terbuka juga.
Ketika kulewati pintu tersebut, ternyata aku berada di
sebuah ruangan besar dengan berbagai barang yang ada. Terlihat disana-sini
dekorasi ruangan yang cukup menarik. Semua benda tertata rapi. Mulai dari
kerajinan porselen sampai dengan lukisan Monalisa pun ada. “Wow..sungguh
menakjubkan” ucapku lirih. Namun mataku tertuju pada sebuah pintu berwarna
coklat dengan gambar bunga dan relief ukiran di permukaannya. Aku tertarik untuk
membuka pintu tersebut.
Kreek..dengan hati-hati ku buka pintu tersebut. Sungguh
menakjubkan. Seisi ruangan ini dipenuhi peralatan laboratorium yang
spektakuler. Sungguh tak dapat dipercaya. Mulai dari mikroskop, tabung reaksi,
alat-alat ukur, bahkan proyek pembuatan roket pun ada. Dalam hatiku aku
bertanya “Sebenarnya, aku dimana? ruangan siapa ini?”.
Tiba-tiba
engsel pintu terbuka, seseorang berbaju ala scientist datang dengan rambut yang
berantakan dan awut-awutan.
“Apa?
It’s Einstein” ucapku dengan nada tak menyangka. Beliau menyapaku dengan bahasa
Inggris. Aku pun menjawabnya dengan bahasa Inggris pula. Saat itu, ingin
kujabat tangan Einstein tapi ternyata tiba-tiba…
Kriing..kring..Ponselku yang berbunyi membuatku terbangun
dari tidurku. Dengan mata yang masih agak mengatup, kulihat layar ponsel.
Ternyata kakakku menelfon. Setelah cukup lama berbicara kuakhiri dengan salam.
“Assalamu’alaikum” ucapku dan kakakku menjawab “Wa’alaikum salam, cepat tidur
ya. Nice dream.” Terputuslah percakapanku dengan kakak.
Ketika aku melihat jam dinding, “Ya Allah.” Ucapku. Aku
lupa belum menyelesaikan pembuatan cerpenku karena ketiduran. Kini sudah hampir
tengah malam. Aku terus mengais-ngais ide cerita yang akan kubuat. Tiing..
“Aha!” aku mendapatkan sebuah ide. Aku teringat mimpi indah yang baru saja aku
alami.
Ku nyalakan lagi laptopku dan ku buka program Ms.Word
untuk mulai membuat. Dengan font Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5 ku ketik
kata-demi kata menjadi satu kesatuan yang indah. Walaupun mimpiku tadi sedikit
aneh, tapi aku percaya cerpen buatanku akan bagus. Dengan bumbu-bumbu fantasi
dan impian ku buat cerpenku semenarik mungkin. Tak lupa juga kusisipkan
pelajaran-pelajaran berharga dan motivasi hidup.
Bagaikan
melewati lorong panjang gelap gulita hanya cahaya lilin yang menerangi. Namun
apabila kita berhasil melewatinya dengan segala usaha yang kita miliki, cahaya
putih berkilauan akan menyongsong dan menerangi pintu masuk dunia yang indah.
“Manusia harus bisa melewati rintangan yang ada, apabila kita
berusaha dengan keras, kebahagiaan akan datang menyongsong.” gumamku dengan
nada puas. Akhirnya sebuah cerpen berjudul Mimpi
Indah di Ujung Lorong Gulita berhasil ku selesaikan.
“Tinggal di edit nih” kataku. Ku perbaiki ejaan kata yang
salah. Beberapa saat kemudian selesai juga pekerjaan yang melelahkan ini.
Dengan nama file Cerpenku, aku save file tersebut ke dalam flashdisk putih dan
kumatikan laptop kesayanganku.
“Ahh.. waktunya tidur.” ucapku. Namun, sebelum tidur, aku
pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan gosok gigi. Sekembalinya di kamar,
ku baringkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan kuregangkan otot-otot yang
kaku. Dan dengan bacaan do’a sebelum tidur, aku berlayar ke dunia mimpi.
*Create by : RNF


0 komentar:
Posting Komentar