Jumat, 10 Agustus 2012

Sahabat Sejati


Sahabat sejati
Bagai buah dan biji
Saling melekat tak terpisahkan
Tak peduli perbedaan
            Deras ombak menerjang
            Badai tak henti menghadang
            Setiap detik langkah kaki kita
Tapi kita tetap tegar
Tak tergerus oleh rintangan
Karena kita slalu bersama
Satu hati bergandengan tangan
Karena kita satu jiwa
Saat ini dan untuk selamanya

*Created by: Citra

Indahnya Symphoni



Matahari bergelayut manja
Di bibir awan
Tersenyum ceria menatap wajahku
Desir-desir angin
Menggenggam lembut jemariku
Bunga dan dedaunan
Bergoyang iringi langkahku
Plukk!
Sesuatu menimpa kepalaku
Ternyata oh ternyata
Mahkota bunga dikepalaku
Senyum penuh makna
Sepasang merpati
Salah tingkah diriku dibuat mereka
Seolah-olah
Mengerti akan riangnya hatiku
Karna dirimu, kasihku

*Create by: Hanum

 

Maestro


Hari pertama
Aku mengeluarkan barang-barang dari ranselku. Beberapa lembar baju dan perlengkapan mandi kumasukkan dalam sebuah lemari kecil dalam kamar (yang juga kecil) ini. Kamarku untuk satu bulan kedepan. Meskipun hanya berkapasitas satu  meja, lemari dan ranjang yang serba kecil, bagaimanapun juga ruangan ini tetap terlihat mengagumkan. Segala sesuatu di sini berwarna putih terang, seolah pemiliknya ingin memberi kesan tentang sesuatu yang ‘benar-benar bersih’. Dan aku sangat yakin, tidak ada sedikit pun titik hitam yang melekat pada dinding, lantai, sprei atau langit-langitnya. Hanya ada kesempurnaan. Membuatku sempat merasa tidak tega saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.
“Lagi apa, Wisnu?” Suara dingin dan berat itu membuatku hampir terloncat. Entah sejak kapan pria berpostur tegap itu berdiri di depan pintu, aku bahkan tidak mendengarnya masuk. Pria itu terlihat cukup gagah untuk ukuran pria yang berusia setengah abad.
Aku berusaha keras menyembunyikan keterkejutanku barusan. Kusunggingkan senyuman paling ramah yang kumiliki. “Oh, Pak Abas. Bikin kaget saja.” Kataku penuh unsur basa-basi. Namun semua orang di negeri ini juga tahu kalau Abas Wicaksono tidak suka basa-basi dalam segala bentuk.
“Kamu ngapain?” Ia bertanya lagi, masih dengan nada dan tatapan datar khasnya. Rasanya sulit dipercaya. Aku baru saja melakukan perjalanan yang begitu melelahkan. Penerbangan panjang dari kota Surabaya ke Kota Palu, ditambah dua jam perjalanan dengan angkutan untuk ke desa kecil ini dan baru sampai di rumah ini pada pukul tiga dini hari. Dan semua itu kulakukan hanya untuk mendapat tatapan dingin dari pria ini. Namun entah mengapa aku tetap merasa begitu bahagia bisa bertemu dengannya. Benar-benar sulit dipercaya.
“Eeng, ini lagi beres-beres saja.” Bukankah aku memang terlihat sedang membereskan barang-barang. Aku tidak mengerti mengapa ia masih juga bertnya.  “Memangnya kenapa, Pak?”
“Maksud saya, ngapain kamu bawa-bawa benda itu, buat apa?” Aku mengikuti arah pandanganya pada beberapa lembar kanvas kosong dan kuas-kuas di tanganku, lalu kembali menatapnya dengan bingung. Jangan-jangan pria ini sudah lupa dengan tujuan awalku berada disini. Mengapa ia masih juga menanyakan kenapa aku membawa benda ini, bukankah ini semua memang alasan mengapa aku menemuinya. Dan seolah Ia bisa membaca pikiranku, ia menambahkan, “kita tidak akan membutuhkan benda-benda itu untuk beberapa hari kedepan. Lebih baik kamu simpan saja dulu.”
Aku menurutinya tanpa memahami maksud perkataanya. Kuletakan peralatanku tadi kedalam laci meja, dan Pak Abas berkata lagi, “Saya tunggu kamu diluar, Wisnu. Kita mulai pelatihan ini se-awal mungkin.” Aku bermaksud mengatakan keberatanku karena aku masih terlalu lelah setelah melakukan perjalanan jauh tadi, namun kuurungkan niat itu.
Aku berdiri di depan rumah sederhana ini, meregangkan bagian  tubuh yang terasa kaku sambil menikmati pemandangan luar biasa di sekitarnya. Udara pagi yang kuhirup begitu menyegarkan, jauh lebih segar dari udara di tempat asalku. Jam tanganku memunjukkan waktu pukul setengah lima, mungkin terlalu pagi untu memulai hari, namun udara disini telah membuatku melupakan rasa lelahku. Dan lagi-lagi, Pak Abas entah dari mana muncul secara tiba-tiba.
“Seperti yang saya bilang tadi, kita tidak akan membutuhkan kuas atau apa. Belum saatnya. Entah kamu sudah berpengalaman atau belum, berbakat atau tidak, kita akan memulai semuanya dari awal." Aku sama sekali tidak mengerti maksud perkataanya.
Dalam suasana remang-remang ini aku bisa melihat seorang bocah bermain lompat tali di belakang Pak Abas. “Gino.” Kata Pak Abas, lagi-lagi dengan nada datarnya. Aku mulai penasaran jangan-jangan seumur hidupnya ia selalu terlihat bosan seperti ini. Seolah di bumi ini tidak ada yang menarik baginya.
Bocah yang ia sebut Gino tadi sempat menoleh ke arah kami selama beberapa detik mendengar namanya disebut. Namun seolah tidak tertarik, ia kembali melanjutkan permainanya tanpa mempedulikan keberadaan kami. “Pagi ini, kamu ikuti saja Gino.” Aku yang tidak paham maksudnya hanya ber-’huh?’, khawatir ada yang salah dengan pendengaranku. “Kamu pernah dengar ‘lari pagi’ kan? Saya ingin kamu kejar terus Gino sampai bisa menangkapnya.” Aku merasa semakin khawatir, jangan-jangan pria ini sedang mempermainkanku. Ia menyuruhku mengikuti bocah ini seolah aku ini babysitter saja, astaga, aku benar-benar tidak paham jalan pikiran pria ini.
Bocah bernama Gino itu sudah berhenti bermain lompat tali dan mulai berlari kecil keluar halaman rumah, seolah ia sama sekali tidak mendengar pembicaraan kami barusan. “Tapi kan, pak, saya jauh-jauh ke sini bukan untuk...”
“Ini bagian dari metode pelatihan saya. Kalau kamu keberatan, silahkan berhenti. Dan, hari ini saya tidak mengharapkan kamu kembali ke rumah ini sebelum bisa menangkap Gino!” Pria ini menatap mataku lekat-lekat selama beberapa detik. Aku benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. Aku pun mulai mengejar Gino yang sudah jauh di depan.

Hari ke 35
Abas Wicaksono. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Seorang pelukis terkenal Indonnesia dengan aliran Ekspressionis dan naturalis nya. Ia adalah seorang legenda. Banyak yang menyebutnya sebagai maestro seni lukis Indonesia kedua, setelah Affandi Koesoema. Namun beberapa menganggap namanya bahkan lebih besar dari Affandi. Ia telah menghasilkan ratusan lukisan, yang memang  jumlahnya tidak lebih banyak dari karya Afandi, namun tidak satupun lukisan Abas Wicaksono yang tidak menjadi fenomenal.
Orang yang awam dalam dunia seni lukis saja dapat mengatakan karya-karya Abas itu luar biasa hanya dengan sekali lihat. Beberapa karya Abas kini telah dipamerkan di musium Louvre, Paris. Bahkan lukisannya yang berjudul ‘Pengantin Kembar’ sedang banyak dipelajari oleh para ahli dan diletakkan bersandingan dengan lukisan ‘Mona Lisa’ karya Leonardo da Vinci.
Bagi Indonesia sosok Abas Wicaksono bagai pahlawan yang telah mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional. Sudah ratusan kali tawaran untuk hidup di luar negeri ia tolak, dan sampai sekarang ia masih berkarya untuk tanah airnya. Namun meskipun terkenal dan fenomenal bukan berarti ia sering muncul di televisi atau acara-acara sosial. Abas selalu menjadi sosok yang misterius. Ia selalu berhasil lolos dari media. Kemunculanya di depan publik saja hanya bisa dihitung dengan jari, dan itu pun selalu dengan gaya dingin dan bosannya tanpa banyak kata-kata. Tidak banyak yang tahu kehidupan pribadinya, latar belakang, masa lalu, bahkan kediamannya. Benar-benar seorang legenda.
Aku, Wisnu Darmawan, adalah satu dari jutaan penggemar Abas Wicaksono. Aku benar-benar mengidolakannya dan aku akan melakukan apapun agar bisa bertemu denganya.
Saat masih kecil dulu aku memang sangat-sangat gemar melukis, dan aku pernah bercita-cita menjadi pelukis terkenal. Namun cita-cita itu tidak pernah sampai kerena orang tuaku menganggap melukis hanyalah sebatas hobi saja. Kini aku berprofesi sebagai dokter bedah di Surabaya, dan impian untuk jadi pelukis sudah lama terlupakan. Kemunculan sosok Abas Wicaksono itulah yang membangkitkan kembali semangat melukisku yang sudah lama terkubur.
Sekitar dua bulan lalu, sebuah keajaiban terjadi. Setelah melakukan pencarian dan penyelidikan yang begitu sulit, rasanya seperti mimpi, aku pun mendapat informasi mengenai kediaman beserta info lainya tentang Abas Wicaksono. Aku sendiri bahkan sulit mempercayainya. Siapa sangka, seorang Abas Wicaksono selama ini ternyata bersembunyi di sebuah desa kecil di Sulawesi Tengah, dimana mungkin tidak banyak orang yang mengetahui identitas aslinya.
Beberapa minggu kemudian, setelah melalui proses ‘memohon-mohon’ yang begitu panjang, akhirnya aku dapat meyakinkan Abas Wicaksono untuk menerimaku sebagai muridnya. Aku tidak akan pernah bisa melupakan ketika surat dari Abas Wicaksono itu sampai ke tanganku. Seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, aku merasa seperti orang peling beruntung di bumi ini.
Dan kini, aku kembali menjalani rutinitasku sebagai Dokter bedah setelah satu bulan belajar pada Abas Wicaksono. Banyak yang telah kupelajari dalam satu bulan ini. Bukan hanya tentang melukis, namun juga caraku memandang hidup. Melukis itu bukan hanya tentang bagaimana cara menghasilkan karya bagus dan menjadi terkenal. Banyak hal kompleks lain yang membuat melukis itu menjadi luar biasa, yang aku sendiri juga sulit untuk memahaminya.
Awalnya aku memang berharap, dengan berguru padanya akan bisa membuka sisi misterius idolaku tersebut pada akhirnya. Dan aku salah. Aku mengira bisa memahaminya hanya dengan mengetahui kebiasaanya sehari-hari. Namun nyatanya aku tetap tidak mengerti apa-apa tentang dirinya. Terkadang disaat tertentu aku merasa mulai mengenal dirinya, namun kemudian aku merasa seolah ia begitu jauh. Abas Wicaksono akan selalu sulit dipahami jalan pikiranya. Sepertinya ia akan selalu menjadi sosok misterius yang sulit dijangkau.

Hari ke 3
Aku bisa benar-benar muntah jika ada makanan yang masuk kedalam mulutku saat ini. Di depan meja makan ini hanya ada aku, Gino, dan Pak Abas. Kepalaku benar-benar pusing, mungkin karena terlalu lelah berlarian pagi ini. Isi perutku serasa seperti dikocok, selera makanku telah lenyap. Aku tidak bisa bergerak selain memegangi perut dan keningku.
“Kecapekan ya, Wisnu? Kamu terlihat mual,” Kata pak Abas. Wajahku pasti terlihat sangat pucat sekarang. Aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan. “Disini, makan bersama itu termasuk dalam pembelajaran saya, loh.” Pak Abas berkata dingin tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. Jadi sekarang pria ini memaksaku untuk makan. Baiklah.
Aku baru saja mengunyah suapan pertamaku, sedangkan Gino sepertinya telah menghabiskan makanan di piringnya. “Sudah kenyang,” katanya kemudian pergi meninggalkan meja makan ini. Kini tinggal aku dan Pak Abas, dan aku berusaha keras mengalihkan perhatianku agar tidak muntah di meja.
“Um, Gino itu sepertinya agak pendiam, ya, pak.” Kataku memulai pembicaraan.
“Jangankan bicara. Senyum saja sangat-sangat jarang dia. Apa lagi tertawa.” Yah, kalau yang satu ini sepertinya aku sudah tahu dari mana penyebabnya. “Tapi dia sangat cerdas, selalu masuk peringkat tiga besar di kelasnya.” Tambah pak Abas, terdengar sedikit bangga.
“Bapak yang mengajari dia belajarnya?” tanyaku.
“Bukan, dia selalu belajar sendiri. Mungkin dia memang mewarisi gen cerdas dari orang tuanya.”
Dan aku pun akan menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah kupendam selama berhari-hari ini. “Jadi, Gino itu cucu bapak, ya?” Mendengar itu, Pak Abas sempat berhenti beberapa detik untuk menatapku, kemudian melanjutkan kembali mengunyah makananya.
“Gino telah melewati banyak hal,” cerita Pak Abas. ”Ia melihat ibunya meninggal dengan mata kepalanya sendiri.” Aku Hampir saja menyemburkan makanan di mulutuku mendengar itu.
“Aku bertemu dengannya empat tahun lalu, di dekat stasiun kota. Saat itu keadaan sangat sepi. Aku melihatnya meraung-raung menangisi ibunya yang tergeletak kritis dengan luka tusukan di perut, mungkin mereka baru dirampok. Saat itu tidak ada seorangpun yang lewat tempat itu, hanya ada aku. Aku benar-benar panik dan tidak tahu harus melakukan apa. Ia memohon-mohon padaku untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Aku pun langsung menelpon polisi dan ambulan datang saat itu juga, tak lama kemudian tempat itu berubah menjadi ramai dan kacau. Namun terlambat, ibu Gino terlalu banyak kehilangan darah, nyawanya tidak tertolong. Sebelumnya aku belum pernah melihat anak yang begitu hancur seperti Gino saat itu.
Tidak ada informasi mengenai identitas Gino dan ibunya. Ada kemungkinan meraka dalam perjalanan ke suatu tujuan, namun saat itu gino masih terlalu kecil. Ia tidak tahu dari mana asalnya atau kemana tujuan ibunya membawanya. Jadi aku membawa Gino tinggal di sini.” Pak Abas terus bercerita dengan santainya, sambil melahap makanan di piringnya. Seolah itu hanya sebuah cerita nostalgia biasa. Sementara aku semakin pucat dibuatnya. “selama ini Aku tidak pernah melihat ia benar-benar tersenyum atau berbicara padaku.” Aku tidak tahu harus berkomentar apa.
Pak Abas telah menyelesaikan makananya dan ia pun meletakkan sendoknya. Kemudian ia menatapku lagi lekat-lekat dan mendesah berat, “mungkin selama ini Gino menyalahkan aku. Mungkin ia tidak akan pernah bisa memaafkanku seumur hidupnya.”

Hari Ke 9
“Wah wah. Apa-apaan ini?” kata pak Abas saat duduk di meja makan.
“Kan Pak Abas selalu membeli makanan luar, jadi saya pikir saya akan masak sekali-kali di sini hehee.”  Biarpun seorang pria bukan berarti aku ini tidak boleh memasak bukan. Salah satu kegemaranku selain melukis adalah memasak. Aku pernah mengikuti kursus memasak saat kuliah dulu, dan spesialisasiku adalah pada masakan Jepang. ”Ini namanya Nikujaga, pak. Makanan jepang kesukaan saya, entah bapak akan suka atau tidak hehee.”
“Oh.” Hanya itu yang Pak Abas katakan, kemudian mengambil piring di depanya meskipun awalnya sempat terlihat ragu. Untung saja ia mau mencoba menu baru ini.
“hm.” Gino telah mengunyah suapan pertamanya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi sepertinya ia menyukainya.
“wah kamu sepertinya sudah pandai memakai sumpit ya, Gino.”  Namun gino tidak mengomentari ucapanku barusan, ia hanya melanjutkan makananya.
Sementara itu kulihat Pak Abas belum memasukkan apapun kedalam mulutnya. Sepertinya ia kesulitan menggunakan sumpit dan aku tidak bisa menahan tawaku. Mendengar kikikanku itu, Gino dengan bingung mengikuti arah pandangku pada Pak Abas yang berulang kali menjatuhkan makanan dari sumpitnya.
Pak Abas mendesah dan menatapku dengan tatapan membunuh. Aku pun berhenti tertawa dan cepat-cepat melahap makanan di piringku.

Hari ke 16
Gino adalah satu-satunya teman yang kupunya belakangan ini. Aku merasa mulai dekat denganya, bukan hanya sebagai teman lari pagi saja.
Rutinitas ‘lari pagi’ ini berjalan setiap hari. Aku harus mengikuti Gino, mengejarnya, dan membawaya pulang, setiap hari. Hanya dengan begitu ritual lari pagi ini akan berakhir. Dan aku benar-benar tidak akan diijinkan berhenti berlari sebelum bisa menyeretnya pulang, meskipun itu bisa sampai siang hari.
Gino pun tidak pernah mempermudah situasiku. Ia sering melesat ke tempat-tempat yang sulit dijangkau bahkan ke hutan desa yang lumayan menjebak. Aku selalu kewalahan mengikutinya. Tak jarang juga aku kehilangan jejaknya dan berakhir tersesat tanpa tahu jalan pulang. Hebatnya, Gino selalu muncul secara tiba-tiba di saat yang tepat. Ketika aku tersesat di pasar, di tengah hutan, ketika aku terjebak di lubang besar, Gino lah yang nenyelamatan aku. Ia selalu datang entah dari mana, seolah ia selalu ada di sekitarku, mengawasi gerak-gerikku dan hanya muncul saat keadaan benar-benar darurat. Memang cukup memalukan untuk di selamatkan anak kecil, tapi dia telah mengajariku banyak hal.
Hari ini aku dan Gino berlari pagi seperti biasa. Dan seperti biasa, belum apa-apa aku sudah tertinggal jauh di belakangnya. Namun yang tidak biasa adalah, ditengah perjalanan tiba-tiba saja ia berhenti di depan sebuah pohon. Dan kesempatan itu tidak kusia-siakan untuk menangkapnya.
“Hahahaa, kena kamu akhirnya.” Kataku terengah-engah dengan mencengkram lenganya. Namun ia tidak merespon. Ia hanya membunggkuk dan memungut sesuatu dari tanah dengan sangat hati-hati. “Ada apa?” tanyaku. Seekor anak burung yang masih merah menciak-ciak di tangan Gino, sepertinya ia baru jatuh dari sarangnya. Gino menatapku dengan tatapan defensif sebelum berlari tanpa mempedulikanku lagi, namun kali ini ia berlari ke arah rumah. “hey tunggu! Burungnya tidak akan bisa selamat!”
Gino membeku mendengar kata-kataku itu, perlahan ia berbalik menghadapku dengan dahi berkerut dan wajah tertekuk. “Sini, kita harus mengembalikan burung itu ke sarangnya agar dia bisa bertahan.” Dengan hati-hati aku mengambil burung kecil itu dari tangan Gino, dan kali ini ia tidak melarangku. Aku yang tidak biasa memanjat pohon pun terpaksa melakukanya agar Gino puas, untung saja letak sarangnya tidak terlalu tinggi. “keadaan diluar terlalu keras untuknya, dia akan sulit bertahan hidup. Dengan begini kan dia bisa kembali ke bersama ibunya.” Kataku sambil berusaha turun dari pohon tanpa terjatuh.
Tekukan di wajah Gino telah hilang. Ia menatapku dengan senyuman tipis di wajahnya. Terlalu tipis, mungkin sulit dilihat, tapi aku tahu ada sebuah senyuman di sana. Dan kami pun kembali pulang.
Aku yakin, sudah ratusan kali ia melewati semua rute lari pagi hingga ia hafal di luar kepala tiap lubang dan belokannya. Aku pun bergidik membayangkan siapa yang selama ini menolongnya ketika ia terjatuh atau tersesat. Dan tiba-tiba sebuah kesadaran menghampiriku. Gino memang tidak terlalu suka berbicara, namun dibalik semua ‘kecuekan’ Gino itu, dia hanyalah seorang anak yang sangat kesepian.

Hari ke 19
Aku terengah-engah.
Pagi ini tidak biasaya Pak Abas mengajakku lari pagi bersamanya, bukanya menyuruhku dengan Gino. Dan tidak kusangka, meskipun ia sudah berusia kepala lima, ternyata sulit juga mengikuti kecepatan larinya. Sebagian mungkin salahku juga karena sebelumnya aku memang tidak tebiasa berlari pagi.
“Saya ingin kamu mengerti alasan saya menyuruh kamu berlari setiap pagi. Disamping manfaat kesehatan tentunya.” Sekarang kami sudah berhenti di sebuah padang rumput yang terlihat seperti lapangan luas. “Kamu tahu tidak, untuk informasi saja, sebagian besar karya saya itu lahir setelah berlari pagi” Aku belum bisa menangkap arah pembicaraanya.
Kami sekarang duduk diatas rumput dan saling berhadapan. Tiba-tiba aku mulai mengerti maksud pak Abas “Oh, jadi selama ini anda telah mengajak saya menyusuri sumber inspirasi anda, pak?” Astaga, mungkinkah selama ini lari pagi yang begitu menyusahkan itu telah dirancang sedemikian rupa oleh pak Abas untuk membantuku melatih apa dan bagaimana cara mendapat inspirasi. Mungkin ia ingin aku dan Gino mempelajari cara berpikirnya. Ia ingin kita bisa berkarya seperti bagaimana ia menghasilkan karya.
“Hah? Inspirasi? apa itu? bukan itu maksud saya, Wisnu. Memangnya menurut kamu semua karya saya hanya berlatar belakang tempat-tempat ini saja? Nggak, kan. Lari pagi ini bukan sumber inspirasi saya.” Ah, iya, benar juga. Semua karya Pak Abas tidak melulu bertema tentang daerah ini, aku tahu itu. Aku yang baru menyadari kesalahan konsepsiku itu pun hanya bisa ber-‘ohh’.
“Saya ingin kamu mengerti, seorang pelukis harus bisa membangun dan mengeksplorasi alam pikiranya sendiri dalam menghasilkan sebuah karya. Jangan hanya mengandalkan Inspirasi.” Ia berhenti sesaat, tahu kalau aku sedang binging dengan maksud perenjelasannya. Mungkin ia sedang memikirkan cara terbaik agar aku paham. “kita harus bisa memahami diri sendiri, menyelami perasaan dan pemikiran terdalam kita, dan mengerti bagaimana cara mengekspresikannya. Setiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda. Ada yang melakukanya dengan bermeditasi, ada yang dengan meminum kopi, ada yang mendengarkan musik, berenang, menari, bernyanyi, hingga tidur. Entah bagaimana denganmu, tapi itu semua bisa saya dapat dengan melakukan lari pagi.”
 Aku semakin tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Merasa seperti orang bodoh, aku hanya duduk memperhatikan tanpa tahu apa maksudnya. “Yah, bukannya saya ingin memaksakan metode lari pagi saya itu padamu, itu semua kan tergantung dirimu sendiri. Saya hanya ingin memberikan sebuah contoh untuk kamu.” Aku tetap saja tidak bisa menangkap maksudnya. Pak Abas pun sepertinya mulai menyerah.
“Sekarang kamu sini. Tarik napas dalam-dalam.” Ia memposisikanku hingga aku kini berbaring diatas rumput menghadap ke langit. “Untuk pertama, apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?” Sebenarnya aku tidak sedang memikirkan apapun saat ini. Tapi karena aku membutuhkan satu jawaban instan, jadi aku hanya mengatakan apa saja yang terlintas di pikiranku saat itu.
“Hanya sebuah langit berisi awan putih,” kataku ragu. Dan Ia sama sekali tidak puas dengan jawabanku.
“Coba lebih keras Lagi!” Bentakanya membuatku terkejut. “Jangan hanya terpaku pada apa yang selama ini kamu lihat. Tutup mata kamu!” Aku sangat tidak menyangka, ia kini terdengar seperi baru lulus dari sekolah militer. Aku pun segera menutup mataku.
“Jangan dipikirkan! Rasakan saja, apa yang selama ini bersembunyi dibalik pikiran terdalammu. Sesuatu yang menunggu untuk dikeluarkan.” Kata-katanya terus terulang di kepalaku. Jangan dipikirkan. Jangan dipikirkan. Aku tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun. “Sesuatu yang mengganggumu saat kamu menutup mata ketika akan tidur. Suatu de ja vu yang tiba-tiba datang dan pergi. Jelajahilah alam bawah sadarmu. Buka hatimu dan rasakan apa yang selama ini kamu rasakan.” Ia terdengar semakin tidak sabar. “Jangan hanya dipikirkan!” Adrenalinku semakin terpacu “Rasakan!”
Dan sesampainya di rumah, untuk pertama kalinya, Pak Abas mengijinkanku melukis .

Hari ke 25
“Selama bertahun-tahun saya sudah melukis dan melihat lukisan dari ratusan pelukis berbeda.” Pak Abas memulai pembicaraan. ”Selama itu, bahkan sampai sekarang pun, saya masih belajar untuk benar-benar ‘melihat’ tiap lukisan dihadapan saya. Asal kamu tahu ya, bukan hanya gambar atau coretan tangan saja yang bisa dilihat dari sebuah lukisan.” Pak Abas mulai mendekatiku yang sedang mencoreti kanvas.
“Setiap luksan memiliki jiwa, makna dan pesan yang berbeda. Beberapa memiliki pesan tersembunyi, sengaja atau tidak. Bahkan banyak pelukis yang tidak benar-benar tahu pesan yang ia siratkan dalam coretanya sendiri. Lukisan adalah cermin kepribadian. Jiwa terdalam pelukisnya. Dengan melihat sebuah lukisan, kita bisa membaca karakter dari pelukisnya. Melukis dan melihat lukisan itu seperti membaca dan menulis bagi saya.”
Pak Abas mulai membandingkan kedua lukisan didepanku. Lukisan pertama adalah yang kubuat lima hari yang lalu, dan satunya lagi masih berupa lukisan setengah jadi karena baru mulai kubuat. Ia memandang dua lukisan itu dengan tatapan serius, hingga aku mulai bertanya-tanya apa yang sedang ada dalam pikiranya. “Jadi, menurut anda karakter saya bagaimana, Pak?”
“Menrut saya, kedua lukisan ini memiliki karakter yang sangat berbeda, tapi jelas terlihat kedua lukisan ini berasal dari satu orang yang sama. Mungkin pelukisnya sedang mengalami suatu kebimbangan,” Pak abas menatapku.
Bagiku, kedua lukisanku itu hanyalah dua lukisan abstrak yang kubiat tanpa memberi pesan khusus.  Lukisan pertama hanya bermakna bintang-bintang dan keadaan di malam hari. Dan lukisan yang satunya hanya berisi bentuk-bentuk bangun geometri yang saling bertautan. Aku hanya menyapukan apa yang ada dalam pikiranku saat itu, dan aku tidak menyangka kalau ternyata lukisan ini menyimpan  arti yang lebih.
“Dalam lukisan pertama, kamu adalah seorang pribadi yang tangguh, ambisius dan tidak mudah merasa kecewa. Sedangkan pada lukisan kedua ini berbeda lagi, kamu adalah seorang yang fleksibel, logis dan senang berbagi dengan orang di sekitarmu. Namun secara keseluruhan keduanya menunjukkan sifat yang sama. Sebuah karakter yang sebelumnya tidak pernah ada dalam rumah ini. Bahkan Gino yang yang masih anak-anak pun tidak memilikinya sekuat dirimu. Kamu memiliki jiwa optimistik yang sangat kuat.”

Hari ke 31
Seorang pria paruh baya duduk di sebuah ruang makan dalam diam bersama dengan seorang bocah. Mereka hanya duduk menatap sebuah bungkusan di atas meja di depanya tanpa menunjukan ekspresi apapun. Pria itu pun membuka dan mengeluarkan isi bungkusan tersebut. Sebuah kotak makan yang masih  hangat dan sebuah amplop yang cukup besar. Ia membuka amplop tesebut, sepucuk surat keluar dari dalamnya.
Pak Abas, Gino, saya tidak akan pernah bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya saya untuk satu bulan terakhir ini. Anda tidak akan pernah mengerti bagaimana saya merasa amat beruntung bisa berada di tempat ini. Terima kasih banyak.
Di sini saya sertakan sisa uang pembayaranya. Dan ini adalah Nikujaga buatan saya, selamat menikmati.
Sekali lagi, terima kasih banyak.
Wisnu Darmawan.
Tanpa berkata-kata, bocah itu membuka kotak makan di depanya dan mulai mengambil di piringnya, diikuti pria itu. Mereka pun menyantap makanan Jepang tersebut dalam diam. Bukan keadaan ‘diam’ yang menyiratkan ketegangan, namun ‘diam’ yang hanya menunjukkan kedamaian.
Satu-satunya yang merusak kesunyian sempurna diantara mereka hanyalah suara gemeletuk sumpit dari pria tua. Ia sepertiya kesulitan menggunakan sumpit dan makananya sempat terlepas beberapa kali. Bocah yang duduk di depanya itu hanya memandanginya selama beberapa saat. Dan untuk pertama kalinya, dinding kesunyian diantara mereka seolah runtuh.
“Hahahaah..” bocah tersebut tertawa kecil. Ia melanjutkan makananya dengan senyuman lebar.
Pria itu terlihat begitu terkejut. Awalnya ia hanya bisa membalasnya dengan senyuman ragu dan memandangi bocah itu untuk beberapa detik. Tak lama kemudian ia pun ikut tertawa bersamanya. Dan mereka terus tertawa seperti itu selama beberapa sesaat dengan canggung.
Tanpa si bocah sadari, pria itu meneteskan air mata dengan tatapan takjub.


*Create by : Ulfi H

Just For X-4


Di suatu sore yang dingin dan hujan lebat, aku duduk termenung di atas tempat tidurku. Tiba-tiba, kreek…pintu kamarku terbuka. Seseorang bertubuh ramping dan berambut panjang telah berdiri di depan pintu kamarku. Ya, itu kakakku. Seorang mahasiswa Universitas ternama yang menempuh semester 4. Dengan gaya bicaranya yang bisa dibilang cukup dewasa datang menyapaku.
“Kamu kenapa?” Tanya kakak.         
“Nggak kok “ jawabku
“Ada masalah ta? Nggak apa-apa cerita aja.”
Aku semakin terdiam. Tak satu katapun mampu terucap. Ingin sekali aku bercerita, namun bibirku terasa kaku. Lidahku terasa beku untuk dapat mengungkapkan semuanya. Kenangan indah bersama teman-teman silih berganti di pikiranku membuat dada semakin sesak. Ingin terus kutahan, namun aku tak bisa. Akhirnya ku coba buka mulut dan bercerita.
“Kenapa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan?” tanyaku dengan nada datar.
“Ya memang seperti itulah hidup ini.” Jawab kakakku.
“Kakak?”
“Ya..”
“Ehm…” aku terdiam sesaat. “Aku, aku boleh cerita sesuatu kan?” tanyaku ragu-ragu.
“Tentu. Why not?” jawab kakakku dengan senang hati.
            Ku tarik nafas dalam-dalam. Setelah aku yakin, akhirnya aku mulai bercerita.
“Kenapa waktu begitu cepat berlalu? 1 tahun itu ternyata waktu yang singkat. Sepertinya, aku telah menemukan arti persahabatan. Setelah 1 tahun bersama, kami seperti telah menjadi sebuah keluarga, keluarga X-4. Suka maupun duka kami lalui bersama. Tetapi, kenapa harus ada perpisahan?” ceritaku terhenti dengan mata berkaca-kaca. Seakan-akan tangis tak dapat terbendung lagi. Namun aku terus menahan agar air mataku tak jatuh karena aku tak mau tampak cengeng di hadapan kakak tercintaku ini.
            Namun sepertinya kakak mengerti apa yang sedang aku rasakan.
 “Perpisahan itu hal yang wajar. Kamu masih akan tetap bersama mereka. Kakak tahu apa yang kamu rasakan. Teman-temanmu pasti juga merasakan hal yang sama.” Tutur kakakku.
“Tapi, apakah aku akan menemukan teman seperti mereka?” tanyaku dengan suara terisak.
“Teman tak dapat tergantikan. Ibarat bunga, teman-teman X-4 adalah bunga anggrek yang indah dan tahan lama, tak mudah layu seiring berjalanya waktu. Sedangkan teman barumu bagaikan bunga melati. Bermekaran tiap hari menghiasi hari-hari barumu. Bunga anggrek dan melati tak dapat tergantikan satu sama lain. Walaupun berada dalam tempat yang berbeda, yang satu di dalam pot yang satu di tanah, tetapi berada dalam kebun yang sama. Begitu juga temanmu. Walaupun berada dalam ruang yang berbeda, namun mereka berada dalam hati yang sama, yakni hatimu.” Ucap kakakku.
            Sejenak kurenungkan kata-kata kakak. Tak sadar air mata menetes. Lalu, sebuah kalimat terucap dari bibirku. “Apakah aku akan selalu bisa melihat mereka?” tanyaku
Kemudian dengan nada sabar kakakku menjawab, “Good friends are like stars. You don’t always see them but you know they are always there.” Setelah mengakhiri kata-katanya kakakku berdiri sambil berkata, “Kakak mau menyiapkan makanan dulu. Sudah, jangan menangis. Udah gede, gak boleh nangis ya.” Ucap kakak.
            Kupandangi kakak yang berjalan keluar  lalu perlahan menutup pintu kamarku. Aku termenung lagi memikirkan kata-kata kakak. Akhirnya kurebahkan tubuhku diatas kasur. Ku atur pernafasanku untuk menenangkan diri. Perlahan, aku mulai tenang dan merasa rileks. Aku memandangi seluruh sudut kamar hingga akhirnya mata pemberian Allah ini tertuju pada suatu benda. “It’s my diary” gumamku. Kemudian aku bangun dari tempat tidur untuk mengambil diary warna ungu dengan hiasan bintang pemberian sahabatku. Persis seperti apa yang dikatakan kakak. Sahabat seperti bintang.
            Diatas kursi dan meja belajar, aku membuka diary sambil memegang sebuah pulpen warna-warni. Sebuah inspirasi muncul di otakku.

Dear diary.
Hari ini adalah hari terakhir kami bersama. Karena lusa ujian telah tiba. Aku merasa sedih, bukan karena ujian datang tetapi karena kami harus berpisah. Teman-teman juga merasa demikian. Terlihat dari mereka, Dinda mengirim sms kepada teman-teman kalau hari ini terakhir belajar bersama di kelas X-4. Sama halnya dengan Si Mega, katanya kita tidak berpisah. Hanya ruang yang memisahkan kita. Kita tetap keluarga X-4. Sedangkan Hanum dan Maya selalu ingin menangis bila membicarakan perpisahan ini. Maya yang biasanya tidak pernah sekalipun menangis di sekolah, hanya karena kemarin hari terakhir kita,  dia sudah hampir menangis. Matanya berkaca-kaca. Waah..ternyata Si Maya ini cengeng juga ya.. :D
Si Ulfi malah kegirangan ketika aku berdo’a ingin satu kelas lagi dengannya XI IPA 1. Di lain sisi, Citra yang ngefans banget sama Peterpan ingin sekali menangis. Bukan secara fisik namun secara batin. Dia bilang “kita dan arek-arek sudah menemukan hubungan kekeluargaan yang erat, gak rela kalau dipisah”. Kalau memikirkan hal yang telah terjadi hari ini, aku jadi teringat waktu pertama kali bertemu. Sangat bertolak belakang dengan keadaan sekarang. Buktinya, aku dan Sito teman sebangku ku tak sehangat sekarang. Dulu kami sangat canggung. Teman-teman lain juga terasa asing bagiku. Namun, seiring berjalannya waktu kami menjadi semakin akrab. Persahabatan antara kami terjalin sempurna. Andaikan kita bisa bersama lagi, aku tak akan melupakan semua hal yang pernah kita lakukan.
Aku bersyukur karena Allah pernah mempertemukan kita dalam takdir yang begitu indah. Lengkap rasaya hari-hariku dalam 1 tahun ini bersama kalian semua. Tak bisa kupungkiri, hatiku terasa berat untuk berpisah. Namun hanya 1 hal yang aku pikirkan, perpisahan itu selalu ada karena kita pernah berjumpa, bersama dalam canda tawa dan bahagia. Biarlah tetes air mata yang tertumpah ini menjadi saksi jalinan ukhuwah yang selama ini kita simpul erat-erat. Aku ingin suatu hari nanti kita bisa bersama-sama kembali dalam suasana yang berbeda, dengan cita-cita dan asa yang telah kita wujudkan. Jadi, aku berharap  kalian tak menyesal pernah mengenalku. Kita akan menjadi sahabat selamanya.

Itulah kalimat yang dapat kutuliskan dalam buku diary ku. Bagian bawah buku ku gambar pelangi dengan pulpen warna-warni milikku. “Persahabatan kita bagai pelangi” kata-kata tersebut meluncur dari mulut. Cukup puas dengan gambar pelangi, buku diary pun ku tutup.
            Untuk menghibur hatiku di tengah sore yang sepi ini, sebuah lagu berjudul “Semua Tentang Kita” ku putar dai HP ku. Lirik demi lirik lagu membawaku terlarut dalam kenangan. Sungguh lagu ini sangat cocok dengan suasana hati dan perasaanku. Perlahan-lahan mataku tertutup untuk melepas semua beban di hari yang cukup melelahkan ini

* Create By : RNF 



Curcol.......(#Emergency#)

Boleh dong curhat dikit nih..! :D :D
Sebenernya cerpen ini dibuat penulis ketika dalam keadaan risau-risaunya...(haha, aku nggak mau sebut galau..anti banget )
Nah, waktu itu nih ceritanya waktu penulis lagi mandi, entah darimana datang sebuah inspirasi yang mungkin jatuh dari langit kali ya..? Tiba-tiba writer pengen banget buat nih cerpen. Abis mandi, si penulis langsung ambil buku Bahasa Inggrisnya yang emang sekalian buat oret-oretan...#Wah..kayak es campur.
Terus kata demi kata dia rangkai di berlembar-lembar kertas . Katanya sih lancar banget dia buat nih cerpen. Kalian tau kenapa?...
Soalnya, momennya pas. Waktu itu hari dimana perpisahannya dengan orang yang dia anggap berharga semakin dekat. Aish..jadi pengen nangis nih. *Ah lebay..
Ehm...si penulis bingung gimana mau nyeritain. Bener-bener ga bisa diungkapin dengan kata-kata. Terlalu..terlalu apa ya?.. terlalu indah mungkin yah.
Emang ya, sebuah kebersamaan yang udah menjadi sebuah ikatan persahabatan ga bisa dilupain gitu aja. Ga rela banget kalo harus dipisahkan. Terlalu so sweet mmen...:)

Jadi, pesen saya nih (ayo! ambil kertas ambil pulpen.. CATET..CATET..)
"Jangan pernah lupakan sahabat kalian. Jangan pernah abaikan mereka. Dan, jangan pernah sia-siain waktu yang ada untuk bersama-sama sahabat yang kalian sayangi. Ingatlah, mereka akan selalu bersama kita dalam tempat dan ruang yang berbeda. OK, Sahabat itu berharga banget.. :) "

Kisah Aneh di Pinggir Kali


          Sore itu, kami sedang asyik membakar jagung, tiba-tiba, tiin..tiin.. salah seorang temanku yang bernama Dini datang. Membawa motor matic berwarna pinknya. Hem..emang nih cewek bener-bener kecewekan banget sih. Udah motornya pink, helmnya pink, tasnya juga pink, tapi kenapa bajunya nggak pink sekalian ya…Namun, salah satu temanku malah marah-marah gara-gara klakson motor Dini membuatnya kaget.
“ Whoi..kira-kira dong! Kalo aku mati kaget gimana?” kata Aya.
Memang sih, Aya nih cenderung sensitif dan emosian banget kayak beruang kutub yang mau hibernasi. Kalau udah marah-marah, waduh bisa kacau seluruh isi rumah, untungnya ini di halaman nggak di dalam rumah. Tapi, di sisi kesensitifannya, dia yang paling pinter mancing loh. Entah mancing ikan atau mancing kemarahan orang. Yang jelas dia paling hobby mancing.
            “ Iya maaf, aku lupa kalo kamu kan orangnya emosian banget. Eh keceplosan.” Kata Dini. Semuanya jadi tertawa melihat ekspresi lucu wajah Aya yang mau marah tapi juga nggak bisa nahan ketawa.
            “Ehm…Ay, besok pergi mancing yuk ke sungai. Kan asyik kalo dapet ikan, terus kita bakar sama-sama deh. Daripada bakar jagung terus kayak gini.” Kata Dini.
“Idiih..kamu jadi hobby mancing nih? Sejak kapan?” Tanya Aya.
“Udah lah, kamu mau nggak?”
“ Iya-iya, aku mau. Gimana dengan kamu Rin?” Tanya Aya padaku.
“ Ehm, gimana yah..iya deh aku mau.” jawabku
“ Nha, gitu dong kamu kan belum pernah mancing bareng kami.” Kata Aya
“ Yaudah. Besok jam 8 ya..” kata Dini
“ oke” jawab Aya.
            Keesokan harinya di sungai, aku sudah tiba lebih dulu daripada Aya dan Dini. “Ehm, mana mereka ya?” ucapku lirih. Ku amati sekitarku. Tak lama kemudian Aya dan Dini datang bersama. Seperti biasa, Dini datang membawa motor matic pink, helm pink, dan tas kecil berwarna pink. Namun kali ini dia juga memakai baju pink.
“ Ini dia Miss.Pink, dari tadi aku tunggu.” Kataku kepada Dini.
“ Ehm, sorry kalo buat kamu nunggu terlalu lama. Gara-gara ada sedikit masalah sama pencernaan. Hehehe.” Jawab Dini tanpa berdosa.
            “ Yaudah, ayo kita cari tempat yang enak biar Pewe.” Ajak Aya. Akhirnya kami menemukan tempat nyaman dibawah pohon yang cukup teduh. Kami mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk memancing. Ketika aku mengeluarkan cacing dari kantong plastikku, eh..si Dini teriak ketakutan.
            “Aahh.. Jangan pake cacing dong, aku geli.”
Mengetahui kalau Dini takut cacing, aku malah menjahilinya terus dengan cacing di tanganku. Dia semakin ketakutan. Tapi lama-kelamaan aku menjadi kasihan. Akhirnya ku hentikan tindakan usilku ini.
            “ Yee..dapat ikan.” Teriak Aya.
Hemm..memang cewek ini bakat banget ya mancing ikan.
 “ Hebat kamu Ay.” Ucapku. “Ah, itu bukan apa-apa.” Jawab Aya. Tiba-tiba Dini ikut-ikutan bicara. “Aku juga pinter mancing kok.”
“Mancing apaan? Mancing hatinya dia ta?” Jawabku. Wajah Dini jadi merah merona. Dia malu nih ceritanya.
            Tiik..tiik..tiik.. Seakan-akan jarum jam berdetak keras. Tiba-tiba, “Heh..aku dapat ikan” teriakku dengan penuh kegirangan. Namun tak dihiraukan Aya dan Dini yang fokus pada aktivitas mereka masing-masing. Aya tiba-tiba juga berteriak karena mendapatkan ikan. “Yee…dapat ikan.” Teriak Aya. Kemudian, aku dan Aya mengumpulkan ikan yang kami dapat ke dalam ember.
            “Banyak ya ikan yang kita dapat.” kata Aya. Aku pun mengiyakan perkataan Aya.
“Ay, kamu lihat orang itu nggak?” kataku kepada Aya sambil menunjuk seorang Pak Tua dengan tampang menyeramkan yang membawa kantong besar.
“Iya. Kenapa dia dari tadi kok mengawasi kita ya?” jawab Aya.
“Jangan-jangan” kataku. Jeng…jeng…
 Kami berdua pun berjalan ketakutan menuju Dini yang sedang asyik mendengarkan lagunya Adelle Someone Like You. Seperti biasa dengan tampang cueknya Dini hanya melirik kami sekilas.
“Din, kamu nggak sadar ta kalau dari tadi kita diamati seseorang?”. Ucap Aya. Tapi Dini tetap saja cuek dan terus mendengarkan lagu. Karena Aya merasa jengkel, headset yang terpasang di telinga Dini pun langsung ditarik olehnya.
“Din, kamu dengar kita nggak sih” tanyaku.
Dengan entengnya Dini menjawab, “Iya. Orang yang mana sih?”
Kami langsung menunjuk Pak Tua yang menyeramkan itu. Kemudian Dini mengajak kami pindah mencari tempat lain.
            “Disini aja. Ayo mancing lagi” kata Dini. Kami bertiga melanjutkan memancing. Ketika kutengok kebelakang, ternyata Pak Tua mengikuti kami. “Ay, Pak Tua itu mengikuti kita” kataku kepada Aya. “Mana?” jawab Aya. Aku menunjuk dengan diam-diam.
“Aduuh. Orang itu maunya apa sih? Kenapa selalu mengikuti kita? Sejak tadi dia memandangi kita.” Kata Aya. Aku menjadi takut sekaligus bingung. Si Dini malah berpikiran yang enggak-enggak.
“Jangan-jangan dia mau menculik kita.” Ucap Dini. “Jangan-jangan iya. Sekarang kan marak tuh yang namanya penculikan.” Kata Aya.
Kami bertiga menjadi semakin takut karena prasangka yang telah kami buat. Karena tak mau hal-hal buruk terjadi pada kami, aku mengajak Aya dan Dini untuk pindah tempat lagi. Ketika sedang buru-buru membereskan barang-barang kami, tiba-tiba…Bruak!! Aya terjatuh karena tersandung batu ketika sedang berlari. Pak Tua itu semakin mendekat dengan langkah kaki terseret. Wajahnya yang seram dan suara terbatuk-batuk membuat kami semakin ketakutan. Namun sial, kaki Aya tersangkut di sela-sela batu sedangkan Pak Tua semakin mendekati kami. “Aduuh…gimana ini?” kata Dini cemas.
 “Ayo cepat, tolong aku” kata Aya dengan suara ketakutan.
Terus menerus kami coba menarik Aya namun tak kunjung bisa.
            Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahuku. “Whoaaa..!!!” teriakku menggema. Aku dan Dini ingin lari namun  Aya belum juga terlepas dari masalahnya. Ketika kutengok bahwa itu adalah tangan Pak Tua, keringat dinginku pun keluar. Badanku menjadi lemas. Aku bingung akan melakukan apa sementara Dini terus menolong Aya.
            “Rin, lari…lari…!” teriak Aya dan Dini. Namun kakiku terasa berat untuk dapat berlari. Keseimbanganku semakin berkurang hampir-hampir mau pingsan tetapi tiba-tiba, “Neng, butuh bantuan?” kata Pak Tua dengan suara seraknya. Klontang… aku terbelalak dengan kata-kata yang dilontarkan Pak Tua.
Pak Tua itu pun membantu untuk melepaskan kaki Aya dari himpitan batu. Aku yang tadi hampir pingsan tak dapat menyangka kalau Pak Tua datang kesini untuk membantu kami.
            Akhirnya Aya dapat selamat. Kami tak dapat berkata-kata apapun kepada Pak Tua. Hanya satu kata yang mampu terucap. “Nuwun.” Pak Tua itu pun membalas kami dengan senyuman. Dia juga meminta maaf karena telah membuat kami takut. Karena tujuan Pak Tua hanya ingin meminta ikan yang kami dapat untuk dia mengisi perutnya yang sudah kosong selama 2 hari. Dengan senang hati, kami membagi ikan tersebut dengan Pak Tua.
            Kemudian Aya mempunyai usul untuk membakar ikan yang telah kami dapat bersama-sama dengan Pak Tua sebagi rasa terima kasih kami. Pak Tua setuju, kami pun membuat perapian kecil untuk membakar ikan di bawah pohon yang rindang.
Sementara aku membakar ikan, Pak Tua berbagi cerita kepada Aya dan Dini mengenai pengalaman hidupnya. Ternyata dia sosok yang berjasa dalam memerdekakan negara ini. Dibalik penampilan lusuhnya, beliau adalah seseorang yang baik hati dan hangat. Kami bertiga pun menikmati acara bakar ikan kami bersama Pak Tua.

*Create By : RNF

Mimpiku, Inspirasiku



“Agh..” itulah satu-satunya kata yang keluar dari bibirku. Aku bingung apa yang harus kutulis. Di depan laptop aku terus berpikir mencari ide. Namun sepertinya otakku tak mau diajak kerjasama. Benar-benar tak ada inspirasi apapun. Kenapa otakku hari ini sangat buntu?.
            “Bagaimanapun caranya, aku harus membuat sebuah cerpen.” gumamku. Di bawah cahaya lampu kamarku, terus ku kais-kais pengalaman yang pernah aku alami. Namun tetap saja, tak sedikit pun ku dapatkan ide yang menarik. Karena terus memikirkan pekerjaan yang sedikit membosankan ini, mataku menjadi ingin mengatup.
            Aku berjalan menuju dapur untuk mencari sedikit makanan dan minuman untuk menahan kantuk yang menderaku. Sebungkus biskuit dan segelas susu menjadi teman perutku. Satu persatu biskuit ku habiskan. Dan akhirnya segelas susu meluncur ke tenggorokanku. Susu coklat hangat yang memang menjadi favoritku. Kata orang, tidak baik makan di malam hari, namun tak kuhiraukan kata-kata seperti itu. Bagiku yang terpenting adalah perutku kenyang, tak merasa mengantuk sehingga dapat meneruskan membuat cerpen yang perlu banyak pengorbanan ini.
            Kemudian kuteruskan pekerjaanku. Aku mencoba mencari inspirasi dari Mbah Google dengan keyword yang terus ku gonta-ganti. Namun hasilnya nihil. Tak satu inspirasi pun kudapatkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya akupun tertidur.
            Samar-samar ku telusuri lorong panjang yang terasa tiada ujung dan gelap gulita. Hanya ditemani cahaya lilin kutapakkan langkah demi langkahku. Kakiku rasanya sakit sekali seperti sudah berjalan berpuluh-puluh kilometer. Setelah beberapa lama, kutemukan cahaya putih yang cukup menyilaukan mata. Terlihat sebuah pintu yang tertutup rapat. Aku mencoba membukanya dengan sekuat tenaga. Akhirnya pintu terbuka juga.
            Ketika kulewati pintu tersebut, ternyata aku berada di sebuah ruangan besar dengan berbagai barang yang ada. Terlihat disana-sini dekorasi ruangan yang cukup menarik. Semua benda tertata rapi. Mulai dari kerajinan porselen sampai dengan lukisan Monalisa pun ada. “Wow..sungguh menakjubkan” ucapku lirih. Namun mataku tertuju pada sebuah pintu berwarna coklat dengan gambar bunga dan relief ukiran di permukaannya. Aku tertarik untuk membuka pintu tersebut.
            Kreek..dengan hati-hati ku buka pintu tersebut. Sungguh menakjubkan. Seisi ruangan ini dipenuhi peralatan laboratorium yang spektakuler. Sungguh tak dapat dipercaya. Mulai dari mikroskop, tabung reaksi, alat-alat ukur, bahkan proyek pembuatan roket pun ada. Dalam hatiku aku bertanya “Sebenarnya, aku dimana? ruangan siapa ini?”.
Tiba-tiba engsel pintu terbuka, seseorang berbaju ala scientist datang dengan rambut yang berantakan dan awut-awutan.
“Apa? It’s Einstein” ucapku dengan nada tak menyangka. Beliau menyapaku dengan bahasa Inggris. Aku pun menjawabnya dengan bahasa Inggris pula. Saat itu, ingin kujabat tangan Einstein tapi ternyata tiba-tiba…
            Kriing..kring..Ponselku yang berbunyi membuatku terbangun dari tidurku. Dengan mata yang masih agak mengatup, kulihat layar ponsel. Ternyata kakakku menelfon. Setelah cukup lama berbicara kuakhiri dengan salam. “Assalamu’alaikum” ucapku dan kakakku menjawab “Wa’alaikum salam, cepat tidur ya. Nice dream.” Terputuslah percakapanku dengan kakak.
            Ketika aku melihat jam dinding, “Ya Allah.” Ucapku. Aku lupa belum menyelesaikan pembuatan cerpenku karena ketiduran. Kini sudah hampir tengah malam. Aku terus mengais-ngais ide cerita yang akan kubuat. Tiing.. “Aha!” aku mendapatkan sebuah ide. Aku teringat mimpi indah yang baru saja aku alami.
            Ku nyalakan lagi laptopku dan ku buka program Ms.Word untuk mulai membuat. Dengan font Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5 ku ketik kata-demi kata menjadi satu kesatuan yang indah. Walaupun mimpiku tadi sedikit aneh, tapi aku percaya cerpen buatanku akan bagus. Dengan bumbu-bumbu fantasi dan impian ku buat cerpenku semenarik mungkin. Tak lupa juga kusisipkan pelajaran-pelajaran berharga dan motivasi hidup.
Bagaikan melewati lorong panjang gelap gulita hanya cahaya lilin yang menerangi. Namun apabila kita berhasil melewatinya dengan segala usaha yang kita miliki, cahaya putih berkilauan akan menyongsong dan menerangi pintu masuk dunia yang indah.
            “Manusia harus bisa melewati rintangan yang ada, apabila kita berusaha dengan keras, kebahagiaan akan datang menyongsong.” gumamku dengan nada puas. Akhirnya sebuah cerpen berjudul Mimpi Indah di Ujung Lorong Gulita berhasil ku selesaikan.
            “Tinggal di edit nih” kataku. Ku perbaiki ejaan kata yang salah. Beberapa saat kemudian selesai juga pekerjaan yang melelahkan ini. Dengan nama file Cerpenku, aku save file tersebut ke dalam flashdisk putih dan kumatikan laptop kesayanganku.
            “Ahh.. waktunya tidur.” ucapku. Namun, sebelum tidur, aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan gosok gigi. Sekembalinya di kamar, ku baringkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan kuregangkan otot-otot yang kaku. Dan dengan bacaan do’a sebelum tidur, aku berlayar ke dunia mimpi. 

*Create by : RNF
               
 
Copyright My Collection 2009. Powered by Blogger.Wordpress Theme by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul Dudeja.